Kehidupan setiap manusia
diawali dari sebuah kelahiran dan diakhiri dengan kematian. Proses tumbuh
kembang seorang manusia dari bayi hingga dewasa melalui berbagai tahapan
kejadian. Bagian dari kejadian tersebut adalah mitos. Arti Mitos sebenarnya
adalah melakukan sesuatu tetapi kita tidak mengerti alasan mengapa kita
melakukannya. Hal ini pastinya dialami oleh setiap orang pada saat ia bayi
hingga berusia 2 tahun dan beranjak anak-anak, segala sesuatu yang ia lakukan
atas dasar apa yang ia lihat dan ia rasakan. Oleh karena itu, kita sebagai
orang dewasa harus mengerti betul bagaimana memahami proses berpikir seorang
anak. Proses berpikir seorang anak lazimnya berkembang sesuai dengan tahapan
usia pertumbuhan dan perkembangan. Proses tumbuh kembang seorang anak layaknya
sebuah perjalanan Filsafat yang berkembang dari awal hingga akhir.
Lantas apa hubungan antara Filsafat
dengan Perjalanan Hidup dan Kehidupan Seorang Manusia ?
Filsafat adalah ilmu
olah pikir yang mengalir baik secara intensif dan ekstensif. Pikiran yang
mengalir tersebut sama mengalirnya dengan awal tumbuhnya sebuah mitos. Mitos
muncul pada saat bayi hingga anak-anak, dan semakin beranjak dewasa kemudian
berangsur tua, kadar mitos itu semakin mengecil. Hal ini dikarenakan
perkembangan pola pikir seorang manusia berpengaruh terhadap tujuan dan alasan
atas apa yang ia lakukan. Sebuah Mitos tidak selamanya berarti negatif. Bagi
masyarakat daerah-daerah tertentu di Indonesia terutama daerah Jawa dan Jogja,
mitos masih sangat berlaku terutama dalam ranah Folklore atau cerita rakyat
yang di dalamnya memuat unsur-unsur magis atau mistik. Cerita-cerita mistik
lebih menekankan larangan/aturan yang masyarakatnya dilarang untuk melakukan
sesuatu dengan alasan yang kadang tidak logis. Namun, tidak semua
larangan/aturan yang tidak masuk akal itu selalu bernilai negatif, pasti ada
hikmah positif yang terkandung di dalamnya yaitu terciptanya budaya peka rasa,
sensitif, rasa saling menghargai dan menghormati. Hal tersebut, sangatlah
berbeda dengan orang-orang Yunani yang merupakan Nenek Moyang bangsa Eropa,
dimana hidup mereka lebih menekankan unsur Rasio ketimbang Mitos. Itulah
sebabnya, mengapa perkembangan pola pikir bangsa Eropa lebih melesat jauh
dibandingkan dengan bangsa kita sehingga sumber teknologi pun berasal dari
mereka.
Pengalaman
Filsafat tentang Mitos juga terlahir semenjak Gereja-Gereja Ortodok di Eropa
berkeyakinan keras bahwa bumi merupakan pusat tata surya (Geosentris). Seiring
berjalannya waktu, muncullah Copernicus (Seorang Ahli Sains) yang menyangkal pendapat
Gereja bahwa bukan bumi yang merupakan pusat tata surya melainkan matahari
(Heliosentris). Hal inilah yang membuat Gereja geram dan berusaha memusnahkan
seluruh referensi orang-orang Yunani Kuno yang notabene ahli dalam bidang ilmu
Eksak dan Sains.
Seiring dengan perkembangan jaman di mana Gereja mendapat
tamparan keras dari ahli Sains dan serta
merta terjadi kekalahan penganut Gereja dengan umat Islam pada Perang Salib
membuat Gereja luluh dan pada akhirnya membebaskan para penganutnya untuk
berpikir, berpendapat, dan menciptakan temuan-temuan ilmiah. Hal inilah yang
membuat masyarakat Eropa (penganut Gereja) berlomba-lomba untuk melakukan
temuan-temuan dalam bidang teknologi, sains, serta hukum.
Perkembangan temuan-temuan bangsa-bangsa Eropa meluas
hingga menciptakan negara-negara Industri yang pada akhirnya menjadi
Powernoun/penguasa dunia. Sifat kuasa dari para penguasa melahirkan pola pikir
Pragmatis, Hedonis, Utilitarian, Materialisme yang pada akhirnya berujung pada
Kapitalisme. Pola pikir Kapitalisme adalah pola pikir yang selalu berusaha
mencari keuntungan sebanyak-banyaknya dengan menguasai negara atau
bangsa-bangsa lain yang dinilai menghasilkan banyak keuntungan. Oleh karena
itu, mengingat budaya pola pikir Kapitalisme yang merajalela dan berpengaruh terhadap
generasi selanjutnya maka Filsuf Paul Ernest memetakan dunia pendidikan ke
dalam 5 bagian, diantaranya :
1. Peta
Industrialis dan Technological Pragmatism
Peta
ini mendidik para generasi dengan pola pikir Pragmatis, Hedonis, Utilitarian, Materialisme
dan menekankan bahwa pendidikan hanya berpusat pada tuntutan teknologi.
Pendidikan ini menghasilkan generasi kaum-kaum kapitalisme.
2. Dunia
Pendidikan Kaum Konservatif
Dunia pendidikan ini menginginkan untuk
melanjutkan nilai-nilai lama dalam pendidikan.
3. Dunia
Pendidikan Old Humanis
Pendidikan yang mengajarkan bahwa segala sesuatu
berpusat pada manusia dan tidak mementingkan adanya TUHAN.
4. Dunia
Pendidikan Progresif
Pendidikan yang menekankan pada sifat
membangun/Konstruktivisme.
5. Dunia
Pendidikan Sosio Konstruktivis
Pendidikan yang menekankan pada sifat
membangun/Konstruktivisme serta nilai-nilai sosial.
Kelima peta dunia menurut Paul Ernest di atas
merupakan bukti bahwa perjuangan dan perjalanan hidup seorang manusia pada
dasarnya adalah untuk mengerti dan memerangi mitos dimana mitos tidak
menunjukkan pola berpikir yang progresif, intensif, dan ekstensif. Pola
berpikir yang TIDAK progresif, intensif, dan
ekstensif merupakan pantangan dalam belajar Filsafat.
2 komentar:
inspiratif put, coba bahasanya sedikit di olah lagi. aku rada ngelu soale nek terlalu serius :D hehe
Put, Foll back yaww :-)
Posting Komentar