Senin, 01 Oktober 2012

A Journey of Philosophy

                                                    Sebuah Perjalanan Dari Hulu Ke Hilir

Kelahiran Filsafat Ilmu diawali dari Sejarah Filsafat Yunani yang dimulai sekitar abad ke-6 SM. Zaman Filsafat Yunani sering disebut juga zaman peralihan dari mitos ke logos yaitu peralihan dari hal-hal kepercayaan Ghaib menjadi kepercayaan menurut rasio (pemikiran).  Filsafat Yunani ini melahirkan suatu Grant Ideas of Philoshopy (Pemikiran Terbesar Sepanjang Sejarah Filsafat)  yang terbagi menjadi 2, yaitu :
1.Filsafat beraliran Tetap (Tesis)
  Tokoh-tokoh yang berpengaruh pada aliran ini meliputi :
  a) Parmenides
     Parmenides berpendapat bahwa segala sesuatu “yang ada” tidak berubah. Parmenides tidak mendefinisikan apa yang dimaksud “yang ada” namun menyebutkan sifat-sifatnya. Menurutnya, “yang ada” itu bersifat meliputi segala sesuatu, tidak bergerak, tidak berubah, dan tidak terhancurkan. Selain itu, “yang ada” itu juga tidak tergoyahkan dan tidak dapat disangkal. Menurut Parmenides, “yang ada” adalah kebenaran yang tidak mungkin disangkal. Bila ada yang menyangkalnya, maka ia akan jatuh pada kontradiksi. Hal itu dapat dijelaskan melalui pengandaian yang diberikan oleh Parmenides, yaitu :
    1)Pertama, orang dapat mengatakan bahwa "yang ada" itu tidak ada.
    2)Kedua, orang dapat mengatakan bahwa "yang ada" dan "yang tidak ada" itu bersama-sama ada.
     Kedua pengandaian ini mustahil. Pengandaian pertama mustahil, sebab "yang tidak ada" tidak dapat dipikirkan dan tidak dapat dibicarakan. "Yang tidak ada" tidak dapat dipikirkan dan dibicarakan. Pengandaian kedua merupakan pandangan dari Herakleitos. Pengandaian ini juga mustahil, sebab pengandaian kedua menerima pengandaian pertama, bahwa "yang tidak ada" itu ada, padahal pengandaian pertama terbukti mustahil. Dengan demikian, kesimpulannya adalah "Yang tidak ada" itu tidak ada, sehingga hanya "yang ada" yang dapat dikatakan ada.
     Untuk lebih memahami pemikiran Parmenides, dapat digunakan contoh berikut ini. Misalnya saja, seseorang menyatakan “Tuhan itu tidak ada !!”, di sini, Tuhan yang eksistensinya ditolak orang itu sebenarnya ada, maksudnya harus diterima sebagai dia "Yang Ada". Hal ini disebabkan bila orang itu mengatakan "Tuhan itu tidak ada", maka orang itu sudah terlebih dulu memikirkan suatu konsep tentang Tuhan. Barulah setelah itu, konsep Tuhan yang dipikirkan orang itu disanggah olehnya sendiri dengan menyatakan "Tuhan itu tidak ada". Dengan demikian, Tuhan sebagai yang dipikirkan oleh orang itu "ada" walaupun hanya di dalam pikirannya sendiri. Sedangkan penolakan terhadap sesuatu, pastilah mengandaikan bahwa sesuatu itu "ada" sehingga "yang tidak ada" itu tidaklah mungkin. Oleh karena "yang ada" itu selalu dapat dikatakan dan dipikirkan, sebenarnya Parmenides menyamakan antara "yang ada" dengan pemikiran atau akal budi.
     Setelah berargumentasi mengenai "yang ada" sebagai kebenaran, Parmenides juga menyatakan konsekuensi-konsekuensinya sebagai berikut :
     1)    Pertama-tama, "yang ada" adalah satu dan tak terbagi, sedangkan pluralitas tidak mungkin. Hal ini dikarenakan tidak ada sesuatu pun yang dapat memisahkan “yang ada”.
     2)    Kedua, "yang ada" tidak dijadikan dan tidak dapat dimusnahkan. Dengan kata lain, "yang ada" bersifat kekal dan tak terubahkan. Hal itu merupakan konsekuensi logis, sebab bila "yang ada" dapat berubah, maka "yang ada" dapat menjadi tidak ada atau "yang tidak ada" dapat menjadi ada.
     3)    Ketiga, harus dikatakan pula bahwa "yang ada" itu sempurna, seperti sebuah bola yang jaraknya dari pusat ke permukaan semuanya sama. Menurut Parmenides, "yang ada" itu bulat sehingga mengisi semua tempat.
     4)    Keempat, karena "yang ada" mengisi semua tempat, maka disimpulkan bahwa tidak ada ruang kosong. Jika ada ruang kosong, artinya menerima bahwa di luar "yang ada" masih ada sesuatu yang lain. Konsekuensi lainnya adalah gerak menjadi tidak mungkin sebab bila benda bergerak, sebab bila benda bergerak artinya benda menduduki tempat yang tadinya kosong.

  b) Plato
     Plato mendukung ajaran Parmenides, yaitu menganggap bahwa segala sesuatu itu TETAP. Namun, ia juga memiliki paham Idealisme yaitu paham filsafat yang memandang mental dan ideal sebagai kunci ke hakikat realitas. Paham idealisme lebih menekankan hal-hal bersifat ide, dan merendahkan hal-hal yang materi dan fisik. Ajaran Plato mengenai ide ada 2, yaitu :
     1)    Dunia ide-ide yang hanya terbuka bagi rasio kita (Dunia Rasional/Dunia Rohani)
     2)    Dunia jasmani yang hanya terbuka bagi panca indera kita (dunia indrawi)
    Dalam dunia rasional, tidak ada perubahan dan kenisbian. Perubahan dan kenisbian hanya ada dalam dunia indrawi yang memang memperlihatkan ketidakmantapan tanpa henti. Misalnya, Singa A atau Singa B itu pasti akan mati. Namun, pada umumnya, yakni ide singa itu akan tetap ada. Begitu pula gambar segitiga di papan tulis, meskipun gambar segitiga di papan tulis tersebut dapat dihapus tapi ide segitiga itu sama sekali tidak akan terhapus dalam pikiran (ide itu abadi selamanya).

  c) Rene Descartes
     Pahamnya yang terkenal adalah Analytic Apriori dengan unsur dasarnya Konsisten dan dasar hukumnya adalah Identitas. Karya filsafat Descrates dapat dipahami dalam bingkai konteks pemikiran pada masanya, yakni adanya pertentangan antara Scholasticism dengan keilmuan baru Galilean - Copernican. Atas dasar tersebut ia dengan misi filsafatnya berusaha mendapatkan pengetahuan yang tidak dapat diragukan. Metodenya ialah dengan meragukan semua pengetahuan yang ada, yang kemudian mengantarkannya pada kesimpulan bahwa pengetahuan yang ia kategorikan ke dalam tiga bagian dapat diragukan, yaitu :
     1)    Pengetahuan yang berasal dari pengalaman inderawi dapat diragukan, semisal kita memasukan kayu lurus kedalam air maka akan nampak bengkok
     2)    Fakta umum tentang dunia semisal api itu panas dan benda yang berat akan jatuh juga dapat diragukan. Descrates menyatakan bagaimana jika kita mengalami mimpi yang sama berkali-kali dan dari situ kita mendapatkan pengetahuan umum tersebut
     3)    Logika dan Matematika, prinsip-prinsip logika dan matematika juga ia ragukan. Ia menyatakan bagaimana jika ada suatu mahluk yang berkuasa memasukan ilusi dalam pikiran kita, dengan kata lain kita berada dalam suatu matrix.
  Dari keraguan tersebut, Descrates hendak mencari pengetahuan apa yang tidak dapat diragukan. Yang akhirnya mengantarkan pada premisnya Cogito Ergo Sum (aku berpikir maka aku ada). Baginya eksistensi pikiran manusia adalah sesuatu yang absolut dan tidak dapat diragukan. Sebab meskipun pemikirannya tentang sesuatu salah, pikirannya tertipu oleh suatu matriks, ia ragu akan segalanya, tidak dapat diragukan lagi bahwa pikiran itu sendiri eksis/ada. Pikiran sendiri bagi Descrates ialah suatu benda berpikir yang bersifat mental ( res cogitans ) bukan bersifat fisik atau material. Dari prinsip awal bahwa pikiran itu eksis descrates melanjutkan filsafatnya untuk membuktikan bahwa Tuhan dan benda-benda itu ada.
  Berangkat dari pembuktiannya bahwa pikiran itu eksis, filsafatnya membuktikan bahwa Tuhan ada dan kemudian membuktikan bahwa benda material ada. Descrates mendasarkan akan adanya Tuhan pada prinsip bahwa sebab harus lebih besar, sempurna, baik dari akibat. Dalam pikiran Descrates ia memiliki suatu gagasan tentang Tuhan adalah suatu mahluk sempurna yang tak terhingga. Gagasan tersebut tidak mungkin muncul/disebabkan oleh pengalaman dan pikiran diri sendiri, karena kedua hal tersebut merupakan sesuatu yang tidak sempurna dan dapat diragukan sehingga tidak memenuhi prinsip sebab lebih sempurna dari akibat. Gagasan tentang Tuhan yang ada dalam kepala (sebagai akibat) hanya bisa disebabkan oleh sebuah mahluk sempurna yang menaruhnya dalam pikiran saya, yakni Tuhan.
  Setelah membuktikan adanya Tuhan, Descrates membuktikan bahwa benda material itu eksis. Ia menyatakan bahwa Tuhan menciptakan manusia dengan ketidakmampuan untuk membuktikan bahwa benda material itu sejatinya tidak ada. Bahkan Tuhan menciptakan manusia untuk memiliki kecenderungan pemahaman bahwa benda material itu eksis. Apabila pemahaman benda material eksis hanya merupakan sebuah matriks kompleks yang menipu pikiran manusia, itu berarti Tuhan adalah penipu, dan bagi Descrates penipu ialah ketidaksempurnaan. Padahal Tuhan ialah mahluk yang sempurna, oleh karena itu Tuhan tidak mungkin menipu, sehingga benda material itu pastilah ada.

2.Filsafat beraliran Berubah (Antitesis)
  Tokoh-tokoh Filsafat pada aliran ini meliputi :
  a) Herakleitos
     Pemikiran Herakleitos yang paling terkenal adalah mengenai perubahan-perubahan di alam semesta. Menurut Herakleitos, tidak ada satu pun hal di alam semesta yang bersifat tetap atau permanen. Tidak ada sesuatu yang betul-betul ada, semuanya berada di dalam proses menjadi. Ia terkenal dengan ucapannya panta rhei kai uden menei yang berarti, "semuanya mengalir dan tidak ada sesuatupun yang tinggal tetap". Pendapat Heraklietos ini bertentangan dengan Parmenides karena perubahan yang tidak ada henti-hentinya itu dibayangkan Herakleitos dengan dua cara :
     1)Pertama, seluruh kenyataan adalah seperti aliran sungai yang mengalir. "Engkau tidak dapat turun dua kali ke sungai yang sama," demikian kata Herakleitos. Maksudnya di sini, air sungai selalu bergerak sehingga tidak pernah seseorang turun di air sungai yang sama dengan yang sebelumnya.
     2)Kedua, ia menggambarkan seluruh kenyataan dengan api. Maksud api di sini lain dengan konsep mazhab Miletos yang menjadikan air atau udara sebagai prinsip dasar segala sesuatu. Bagi Herakleitos, api bukanlah zat yang dapat menerangkan perubahan-perubahan segala sesuatu, melainkan melambangkan gerak perubahan itu sendiri. Api senantiasa mengubah apa saja yang dibakarnya menjadi abu dan asap, namun api tetaplah api yang sama karena itu, api cocok untuk melambangkan kesatuan dalam perubahan.
     Heraklietos juga penganut Metafisika, yaitu cabang filsafat yang mempelajari penjelasan asal atau hakekat objek (fisik) di dunia. Metafisika adalah studi keberadaan atau realitas. Metafisika mencoba menjawab pertanyaan-pertanyaan seperti: Apakah sumber dari suatu realitas? Apakah Tuhan ada? Apa tempat manusia di dalam semesta? dan lain sebagainya. Cabang utama metafisika adalah Ontologi yaitu ilmu yang mempelajari tentang hakekat benda-benda di alam dan hubungan antara satu dan lainnya. Ahli metafisika juga berupaya memperjelas pemikiran-pemikiran manusia mengenai dunia, termasuk keberadaan, kebendaan, sifat, ruang, waktu, hubungan sebab akibat, dan kemungkinan.

  b) Aristoteles
     Aristoteles juga merupakan Filsuf penganut Ilmu Ontologi (Metafisika). Aristoteles merupakan murid Plato tetapi justru berlawanan arah dengan Plato. Aristoteles memiliki paham Realis yaitu paham bahwa hakekat suatu benda itu bukan terletak pada ide/pikiran melainkan pada obyek nyata benda itu sendiri  (pendapat ini sangat berlawanan dengan Plato). Contoh dari paham Aristoteles : sebelum menjadi sebuah patung kuda kayu, tentu ada tahapan-tahapan yang mendahuluinya, misalnya sebuah pohon menghasilkan sepotong kayu utuh lalu kepala kuda diukir pada kayu itu. Setelah itu, badan kuda juga harus dibuat dan seterusnya sampai pada akhirnya seluruh patung itu berbentuk penuh seekor kuda. Ajaran Aristoteles juga telah mengarah pada pengakuan adanya TUHAN. Menurut Aristoteles, suatu gerakan atau proses perkembangan dalam jagad raya tidak mempunyai awal dan akhir dalam waktu maka alam semesta abadi sifatnya. Namun, karena sesuatu yang bergerak itu digerakkan oleh penggerak yang lain, perlu diterima satu Penggerak Pe     rtama yang tidak digerakkan oleh Penggerak lain, yaitu TUHAN. Selain Metafisika sebagai aliran dari Aristoteles, Aristoteles juga membagi cabang ilmu menjadi 3 bagian, yaitu :
     1)    Ilmu Pengetahuan Praktis (Etika dan Ilmu Politik)
     2)    Ilmu Pengetahuan Produktif menyangkut pengetahuan yang sanggup menghasilkan suatu karya/produk jadi (ilmu teknik, kesenian)
     3)    Ilmu Pengetahuan Teoritis (Fisika, Matematika, dan Metafisika (yang telah disebutkan di atas))
     Namun, di luar ketiga pengetahuan di atas, masih ada Logika (Penalaran Tepat). Ajaran Logika Aristoteles yang sampai sekarang masih digunakan adalah ajaran mengenai Induksi, Deduksi, dan Silogisme. Induksi adalah metode pemikiran yang menghasilkan pengetahuan tentang yang umum dengan bertolak dari hal-hal khusus, sedangkan Deduksi adalah sebaliknya yakni metode pemikiran yang khusus dengan bertitik tolak dari hal umum, Salah satu contoh dari Metode Deduksi adalah Silogisme, yakni pengambilan kesimpulan berdasarkan dua pernyataan yang telah diberitahukan sebelumnya. Misalnya :
     Premis Mayor : Semua manusia akan mati
     Premis Minor : Budi adalah seorang manusia
     Kesimpulan    : Maka Budi akan mati

     Aristoteles dikenal sebagai Bapak Ilmu Pengetahuan karena merupakan Filsuf pertama yang mengajarkan tentang rasionalitas ilmu pengetahuan dan dasar-dasar pemikirannya hingga saat ini masih terus digunakan dalam berbagai cabang ilmu pengetahuan.


  c) David Hume
     Inti ajaran David Hume pada dasarnya sama dengan Aristoteles yaitu menekankan pada Berpikir (ide). Akan tetapi, teori Berpikir ala David Hume berdasarkan pada suatu pengalaman seseorang yang disebut teori Empiricism dengan unsur dasar Synthetic Aposteriori (bisa berpikir kalau sudah melihat). Synthetic Aposteriori berlawanan arah dengan Analytic Apriori atau bisa dikatakan bahwa pendapat David Hume berlawanan dengan Rene Descartes.
     Aliran Empiris adalah aliran yang berpandangan bahwa pengetahuan secara keseluruhan/parsial didasarkan kepada pengalaman yang menggunakan indera. Secara terminologis, Empirisme adalah doktrin bahwa sumber seluruh pengetahuan harus dicari dalam pengalaman, pandangan bahwa semua ide merupakan abstraksi yang dibentuk dengan menggabungkan apa yang dialami, pengalaman indrawi adalah satu-satunya sumber pengetahuan, dan bukan akal. Aliran ini memegang teguh prinsip bahwa pengetahuan manusia dapat diperoleh lewat pengalaman, misalnya : “Mengapa kita takut jika masuk ke dalam kandang Harimau?” karena Harimau adalah binatang buas dan berbahaya (pengalaman menurut seseorang yang pernah diterkam Harimau atau pengalaman seseorang yang pernah bertemu dengan Harimau).
     David Hume juga sebagai penggagas Ruang dan Waktu dalam Filsafat. Gagasan mengenai waktu berasal dari urutan kesan terhadap suatu hal. Misalnya kita melihat buah mangga jatuh dari pohon yang asalnya berada pada dahan, lalu buah itu jatuh di atas tanah. Pada saat itu kita melihat ada urutan kesan waktu mengenai buah mangga (pada mulanya) dan kemudian berada di atas tanah. Pada saat itulah gagasan mengenai waktu terbentuk dalam imajinasi kita. Gagasan mengenai ruang berkaitan dengan luas (ukuran). Ide ruang dihasilkan oleh indra penglihatan dan penyentuh. Ketika kamu melihat mangga jatuh dibawah pohon sana, kesan kamu mengatakan bahwa mangga itu benar-benar ada. Pada saat itulah imajinasi kita menemukan gagasan mengenai ada di sana itulah ruang. Lewat dua pendapat di atas, Hume menentang semua pikiran dan gagasan yang tidak dapat dilacak dengan persepsi indera.


Diantara perjalanan Filsafat Aliran Tetap dan Filsafat Aliran Berubah, lahir beberapa temuan dan paradigma baru dalam bidang ilmu yang tokoh-tokohnya meliputi : Nicolaus Copernicus (pahamnya Heliocentris yaitu : Menetapkan matahari sebagai pusat Tata Surya (bukan bumi)), Galileo Galilei (penemu Hukum Gerak dan Kecepatan), Newton (penemu Hukum Alam dan Titik Didih Air) dan masih banyak lagi lainnya dimana beberapa ilmuwan berikut mematahkan pendapat kuno dari Gereja (Zaman Kegelapan) yang beranggapan tentang mitos-mitos dewa-dewa dan menganggap “Bumi sebagai pusat dari tata surya”.
Dari pertentangan antara paham Rene Descartes dan David Hume yang terlihat dari filsafat aliran tetap dan aliran berubah di atas, Immanuel Kant mencoba untuk mensintesiskan keduanya sehingga membentuk suatu paham Synthetic Apriori yaitu Filsafat Lengkap berdasarkan gabungan antara Synthetic Aposteriori dengan Analytic Apriori. Inti paham Immanuel Kant dikenal dengan Kritisisme atau Filsafat Kritis, suatu nama yang diberikannya sendiri. Kritisisme adalah filsafat yang memulai perjalanannya dengan terlebih dulu menyelidiki kemampuan rasio dan batas-batasnya. Kritisisme terdiri atas 3 bagian, yaitu :
1)Kritik atas Rasio Murni
  Dalam kritik ini, antara lain Kant menjelaskan bahwa ciri pengetahuan adalah bersifat umum, mutlak dan memberi pengertian baru. Untuk itu ia terlebih dulu membedakan adanya tiga macam putusan. Pertama, putusan analitis a priori; di mana predikat tidak menambah sesuatu yang baru pada subjek, karena sudah termuat di dalamnya (misalnya, setiap benda menempati ruang). Kedua, putusan sintesis aposteriori, misalnya pernyataan “meja itu bagus” di sini predikat dihubungkan dengan subjek berdasarkan pengalaman indrawi, karena dinyatakan setelah mempunyai pengalaman dengan aneka ragam meja yang pernah diketahui. Ketiga, putusan sintesis a priori: di sini dipakai sebagai suatu sumber pengetahuan yang kendati bersifat sintetis, namun bersifat a priori juga. Misalnya, putusan yang berbunyi “segala kejadian mempunyai sebabnya”. Putusan ini berlaku umum dan mutlak (jadi a priori), namun putusan ini juga bersifat sintetis dan aposteriori. Sebab di dalam pengertian “kejadian” belum dengan sendirinya tersirat pengertian “seb  ab”. Maka di sini baik akal maupun pengalaman indrawi dibutuhkan serentak. Ilmu pasti, mekanika, dan ilmu pengetahuan alam disusun atas putusan sisntetis yang bersifat a priori ini. Menurut Kant, putusan jenis ketiga inilah syarat dasar bagi apa yang disebut pengetahuan (ilmiah) dipenuhi, yakni bersifat umum dan mutlak serta memberi pengetahuan baru. Persoalannya adalah bagaimana terjadinya pengetahuan yang demikian itu?. Menjawab pertanyaan ini Kant menjelaskan bahwa pengetahuan itu merupakan sintesis dari unsur-unsur yang ada sebelum pengalaman yakni unsur-unsur a priori dengan unsur-unsur yang ada setelah pengalaman yakni unsur-unsur aposteriori. Proses sintesis itu, menurut Kant terjadi dalam tiga tingkatan pengetahuan manusia yaitu pencerahan indrawi (sinneswahrnehmung), lalu tingkat akal budi (verstand), dan tingkat tertinggi adalah tingkat rasio/intelek (Versnunft).

2)Kritik atas Rasio Praktis
  Apabila kritik atas rasio murni memberikan penjelasan tentang syarat-syarat umum dan mutlak bagi  pengetahuan manusia, maka dalam “kritik atas rasio praktis” yang dipersoalkan adalah syarat-syarat umum dan mutlak bagi  perbuatan susila. Kant coba memperlihatkan bahwa syarat-syarat umum yang berupa bentuk (form) perbuatan dalam kesadaran itu tampil dalam perintah (imperatif). Kesadaran demikian ini disebut dengan “otonomi rasio praktis” (yang dilawankan dengan heteronomi). Perintah tersebut dapat tampil dalam kesadaran dengan dua cara, subyektif dan obyektif. Maxime (aturan pokok) adalah pedoman subyektif bagi perbuatan orang perseorang (individu), sedangkan imperatif (perintah) merupakan azas kesadaran obyektif yang mendorong kehendak untuk melakukan perbuatan. Imperatif berlaku umum dan niscaya, meskipun ia dapat berlaku dengan bersyarat (hepotetik) atau dapat juga tanpa syarat (kategorik). Imperatif kategorik tidak mempunyai isi tertentu apapun, ia merupakan kelayakan formal. Menurut Kant, perbuatan susil  a adalah perbuatan yang bersumber pada kewajiban dengan penuh keinsyafan. Keinsyafan terhadap kewajiban merupakan sikap hormat (achtung). Sikap inilah penggerak sesungguhnya perbuatan manusia.
3)Kritik atas Daya Pertimbangan
  Konsekuensi dari “kritik atas rasio murni” dan “kritik atas rasio praktis” menimbulkan adanya dua kawasan tersendiri, yaitu kawasan kaperluan mutlak di bidang alam dan kawasan kebebasan di bidang tingkah laku manusia. Adanya dua kawasan itu, tidak berarti bertentangan atau dalam tingkatan. Kritik atas Daya Pertimbangan (Kritik der Urteilskraft), dimaksukkan oleh Kant, adalah mengerti persesuaian kedua kawasan itu. Hal itu terjadi dengan menggunakan konsep finalitas (tujuan). Finalitas bisa bersifat subjektif dan objektif. Kalau finalitas bersifat subjektif, manusia mengarahkan objek pada diri manusia sendiri. Inilah yang terjadi dalam pengalaman estetis (kesenian). Dengan finalitas yang bersifat objektif dimaksudkan keselarasan satu sama lain dari benda-benda alam.

Filsafat Modern

Tokohnya adalah Augusta Comte dengan aliran Positivisme. Aliran ini sebagai antitesis Filsafat Yunani yaitu mengembangkan keilmuan yang telah ada sebelumnya. Penjelasan Comte tentang filosofi yang positif memperkenalkan hubungan yang penting antara teori, praktik dan pemahaman manusia dunia. Comte merumuskan Hukum Tiga Fase/perkembangan pemikiran manusia secara evolusi ada 3 tahap, yaitu :
1.Tahap Teologis/Tahap Kebudayaan Primitif
  Tahap ini mendefinisikan segala peristiwa alam dan kehidupan manusia ditinjau dari kemauan yang bersifat Ketuhanan
2.Tahap Metafisis
  Yaitu tahap yang menafsirkan segala peristiwa alam dan kehidupan manusia dari konsep-konsep umum yang bersifat spekulatif
3.Tahap Positif (atau sering juga disebut "tahap ilmiah")
  Yaitu tahap yang menafsirkan peristiwa-peristiwa alam dan kehidupan manusia berdasarkan gejala-gejala dan hubungan-hubungan matematis yang dihasilkan oleh ilmu.

Selanjutnya, Comte berpendapat bahwa ilmu dapat diklasifikasikan berdasarkan kerumitannya menjadi 6 ilmu pokok dan berakumulasi atau berakhir pada ilmu yang ketujuh, yaitu ilmu tentang Moral. Adapun 6 ilmu pokok-pokok tersebut meliputi : Matematika, Astronomi, Fisika, Kimia, Biologi, dan Sosiologi. Oleh karena klasifikasi ilmu-ilmu tersebut merupakan klasifikasi hierarkis evolusionis maka hal itu berarti bahwa sosiologi bergantung pada biologi; biologi bergantung pada kimia; kimia bergantung pada fisika; fisika bergantung pada astronomi; dan astronomi bergantung pada matematika. Sosiologi merupakan ilmu yang paling positif.
Comte berpikir bahwa Ilmu Pendidikan harus merupakan bagian integral dari Ilmu Moral yang merupakan suatu perpaduan semua konstruksi ilmiah sehingga merupakan bentuk ilmu yang tertinggi. Dengan demikian, Ilmu Pendidikan bukan ilmu yang otonom seperti ilmu-ilmu dasar (Matematika, Astronomi, Fisika, Kimia, Biologi, dan Sosiologi) tetapi lebih merupakan sosiologi terapan atau sosiologi tentang pendidikan.




Sumber :

Copleston, Frederick. 1960. A History of Philosophy. Vol. VI.  London : Search Press
Mudyahardjo, Drs.Redja. 2002. Filsafat Ilmu Pendidikan (Suatu Pengantar). Bandung : Remaja Rosdakarya www.wikipedia.org