Minggu, 23 September 2012

The Second Mirror



Menerjemahkan Hidup dan Kehidupan


Filsafat pada dasarnya adalah substansi dalam hidup dan kehidupan manusia di bumi. Manusia menjalani hidup berdasarkan suatu prinsip-prinsip yang berlaku dari sisi spiritual, normatif, serta formal secara komprehensif dan harmoni untuk mendapatkan suatu keteraturan dalam hidup. Filsafat juga mengajarkan bagaimana cara berpikir yang sehat, hidup yang sehat, pengakuan adanya TUHAN, dan cara bersyukur kepada TUHAN. Kesadaran saya tentang pentingnya Filsafat dalam hidup terbangun setelah saya merefleksikan apa yang diterangkan oleh Dr. Marsigit pada perkuliahan pertemuan kedua ini. Saya kemudian berpikir dan menyimpulkan bahwa Filsafat merupakan induk dari segala macam ilmu yang mempelajari tentang apa yang ada di bumi dan yang mungkin ada. Filsafat bukan hanya sekedar kata ataupun kalimat yang sering kita ucapkan sehari-hari melainkan juga meliputi kegiatan membaca, berpikir, melakukan sesuatu, berinteraksi dengan orang lain melalui esensi dari Filsafat tersebut. Filsafat itu lebih menekankan pada unsur-unsurnya, sifat-sifatnya baik sifat berikat maupun sifat berpola yang menuju kepada satu tujuan, yaitu kehidupan yang lebih baik.
Seseorang dikatakan berhasil mengembangkan metode hidup (Hermeneutika) apabila seseorang tersebut telah berusaha menggapai keseimbangan hidup dengan cara menerjemahkan dan diterjemahkan oleh unsur-unsur yang ada. Salah satu bagian dari keseimbangan hidup adalah mensyukuri segala nikmat TUHAN. Konteks syukur kepada TUHAN itu bisa diaplikasikan dalam bentuk keikhlasan, yaitu keikhlasan dalam menjalani kewajiban kita entah sebagai guru, anak kepada orang tua, dan kewajiban kita kepada TUHAN. Mencintai TUHAN itu sama artinya menjalankan kewajiban kita terhadap TUHAN dengan cara beribadah baik secara Mahdah maupun Ghairumahdah.
Kesuksesan dalam hidup seseorang ditentukan oleh 2 faktor, yaitu : Faktor Ikhtiar (Usaha) dan Faktor Takdir (Nasib). Kedua faktor tersebut saling berkaitan erat dan tidak boleh terpisah dalam pelaksanaannya. Orang yang sukses adalah orang yang mau berikhtiar/berusaha dengan sungguh-sungguh dan hasilnya dipasrahkan kepada TUHAN (berdoa). Itulah arti hidup sebenarnya dalam keseimbangan karena pada dasarnya kita sebagai manusia berada pada jarak antara Takdir dan Ikhtiar. Jika kita hanya mengandalkan nasib/takdir TUHAN sepenuhnya tanpa mau berusaha sedikitpun maka kita disebut sebagai Kaum Fatal, begitu juga sebaliknya, jika kita hanya terjebak pada ikhtiar saja dengan berusaha secara bersungguh-sungguh tanpa mau berpasrah dan berdoa kepada TUHAN maka kita disebut sebagai Kaum Matrealisme. Kaum Matrealisme hanya mengejar materi saja tanpa memperhatikan bahwa ada kekuasaan tertinggi yang bisa membolak-balikkan hasil secara sekejap, yaitu TUHAN. Di samping Kaum Matrealisme ada pula Kaum Vital dimana kaum ini tidak percaya akan adanya TUHAN, kaum tersebut merasa bisa menguasai apa yang ada di bumi ini dengan ilmu pengetahuan yang dimilikinya, tapi kelemahan dari kaum ini adalah sampai sekarang mereka tak bisa menjelaskan tentang apa yang dimaksud dengan Arwah/Roh/Nyawa/Orang yang sedang Sakaratul Maut.
TUHAN memiliki segalanya baik yang di bumi maupun di langit sehingga TUHAN MAHA KUASA. Definisi dari kata “memiliki” artinya adalah berkuasa atau menjatuhkan sifat kepada yang di beri kuasa. Hidup manusia dikuasai oleh TUHAN dan manusia bisa berkuasa pada hidupnya sendiri sepanjang itu ikhtiar, sehingga bisa disimpulkan bahwa Hidup = Kuasa = Filsafat. Godaan bagi orang yang berkuasa adalah menggunakan kekuasaannya, seperti Guru yang memberikan kekuasaanya kepada murid ataupun guru melabelkan sifat kepada siswa bahwa siswa tersebut malas, padahal siswa tersebut tidak selamanya malas. Jadi, jangan memberi kekuasaan kepada siswa secara semena-mena karena hal tersebut sesungguhnya adalah berdosa. 

Runtyani. I.P
12709251015/PMAT C/PPS UNY

Minggu, 16 September 2012

REFLEKSI PERKULIAHAN FILSAFAT ILMU



Runtyani Irjayanti Putri
S-2 PMAT C 2012
NIM.12709251015


REFLEKSI KULIAH FILSAFAT ILMU PERTEMUAN PERTAMA
 
Filsafat ilmu adalah suatu ilmu yang mempelajari tentang olah pikir yang reflektif. Reflektif di sini artinya adalah kesadaran diri dan akal sehingga kita merefleksikan kesadaran diri kita sendiri dan akal kita. Jadi, Filsafat adalah Refleksi. Filsafat Ilmu dari pertama lahir hingga jaman sekarang ini adalah sebuah Introduction (perkenalan), perkenalan akan hakikat hidup (life). Oleh karena itu Filsafat Ilmu itu adalah Filsafat yang hidup dan berkehidupan. Semua orang mampu berfilsafat, semua orang adalah filsuf bagi dirinya sendiri dan orang lain.
Manusia pada dasarnya memiliki 3 unsur pembangun, yaitu : akal (logika), hati (jiwa yang independen dan bersifat spiritual) serta perasaan. Manusia hidup di dunia tidak hanya berupaya untuk memahami segala sesuatu secara sistematis, radikal, dan kritis. Akan tetapi, manusia juga perlu mengedepankan Hati. Hati manusia bersifat spiritual, karena di dalam hati kecil manusia (di lubuk hati manusia) terdapat Suara Tuhan. Oleh karena itu, dalam Filsafat Ilmu, TUHAN sering disebut dengan HATI karena Suara Hati Manusia adalah Suara TUHAN. Kepercayaan akan adanya TUHAN bersifat Irrasional sehingga setinggi-tingginya pikiran (logika) manusia, tak akan mampu untuk memecahkan misteri TUHAN.
Alat berkomunikasi dalam dunia Filsafat Ilmu adalah Bahasa Analog. Bahasa Analog adalah bahasa perbandingan, artinya bahwa istilah-istilah tertentu dalam filsafat ilmu sering di analog-kan dengan istilah lain, seperti : cinta itu hati (cinta itu ada di hati) sehingga aku mencintai seseorang dengan menggunakan hatiku (bukan dengan menggunakan pikiranku). Jika kita mencintai seseorang dengan menggunakan pikiran maka akan sulit pastinya kita merumuskan suatu kesimpulan bahwa “Kita sesungguhnya mencintai seseorang itu atau tidak”. Begitu juga cinta terhadap TUHAN, kita mencintai dan memahami TUHAN dengan hati kita (bukan dengan pikiran kita), jadi di saat pikiran kita buntu (sudah tak bisa berpikir lagi) maka solusi yang terbaik adalah berdoa kepada TUHAN. Jadi, dari contoh di atas, kita bisa menyimpulkan bahwa “CINTA” = “HATI” = “TUHAN”. Setinggi-tingginya pikiran kita tak  akan bisa mengungkap Misteri Cinta dan Misteri TUHAN.

 Fondasi seseorang belajar Filsafat ada 4 fondasi, yaitu :
1.    Basic Foundation
Fondasi dasar dari Filsafat adalah TUHAN (Spritual yang tertinggi)
2.    Pshycological Foundation
Fondasi psikologi pada intinya adalah meluruhkan segala ego kita, meluruhkan segala kesombongan kita atas penguasaan suatu ilmu karena penguasa ilmu tertinggi di dunia ini hanyalah TUHAN. Setinggi-tingginya pikiran manusia dalam urusan dunia, kebenarannya masih relatif tetapi jika kebenaran itu sudah menyentuh langit maka kebenarannya bersifat absolut (kuasa TUHAN).
3.    Life Foundation
Fondasi hidup/Fondasi Alamiah adalah Ilmu dasar yang diberikan TUHAN semenjak manusia lahir adalah dasar dalam berfilsafat.
4.    Experience Foundation
Fondasi pengalaman adalah fondasi yang dibangun atas dasar pengalaman hidup seseorang artinya seorang manusia bisa membedakan hal yang baik atau buruk, berbahaya atau tidak berbahaya, boleh dilakukan atau tidak boleh dilakukan itu berdasarkan pengalaman hidup seseorang itu sendiri.

Dimensi filsafat ilmu ada 4, yaitu :
1.    Dimensi Pikiran (Akal,Logika)
Artinya bahwa berfilsafat itu menggunakan pikiran. Kita berpikir/melakukan olah pikir untuk mendapatkan suatu kepastian dalam ilmu pengetahuan.
2.    Dimensi Ucapan
Artinya setiap orang berhak untuk mengucapkan apa yang ada di pikirannya masing-masing. Namun, segala hal/ilmu yang ada di pikiran tidak bisa dikeluarkan secara bersama-sama melalui ucapan, pemikiran-pemikiran tersebut harus diucapkan secara runtut (hierarki).
3.    Dimensi Tulisan
Artinya Filsafat bisa dituangkan dalam berbagai macam tulisan. “Aku tak mampu menulis seperti apa yang aku kehendaki, sebanyak-banyaknya tulisan yang aku tulis tak bisa menulis apa yang aku pkirkan atau aku katakan”.
4.    Dimensi Tindakan
Setelah dipikirkan, diucapkan, dan ditulis maka filsafat harus diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Namun, tidak semua hal yang ada dipikiran itu harus dilakukan, karena keterbatasan manusia itu sendiri, ada kelemahan dalam diri manusia, sehebat-hebatnya manusia tidak bisa melakukan 2 tindakan sekaligus dalam waktu yang bersamaan.


Pertanyaan :
1.   Bagaimana cara yang mudah dan aplikatif yang harus dilakukan oleh Guru Matematika dalam memberikan pemahaman kepada siswa SMK tentang filsafat ilmu pendidikan matematika (selain Filsafat Ketuhanan) sebagai bekal ilmu siswa kelak setelah lulus dari SMK ???
2.  Jika terjadi pemberontakan antara Hati dan Pikiran, apakah Hati yang harus saya dahulukan? Padahal Pikiran juga ingin didahulukan, terkadang sulit membedakan Kata Hati yang murni Suara TUHAN dan Kata Hati dari “Suara Yang Lain”.