Selasa, 04 Desember 2012

Apakah Kita Sudah Akuntabel ?



Runtyani Irjayanti Putri
PMAT C PPS UNY
12709251015


Akuntabel berasal dari istilah bahasa inggris  Accountable  yang  terdiri atas suku kata “Account” yang berarti menghitung dan “Able” yang berarti mampu. Jadi, arti kata Akuntabel disini bukan berarti mampu menghitung atau pintar menghitung, melainkan dapat dipercaya atau dapat dipertanggungjawabkan. Seseorang yang akuntabel adalah seseorang yang dapat dipercaya baik dari segi ucapannya maupun perbuatannya.
Jika kita berbicara Akuntabel dalam Filsafat Pendidikan Matematika maka Akuntabel dalam hal ini adalah tuntutan bagi seorang guru agar menjadi guru yang dapat dipercaya. Dapat dipercaya artinya bahwa karya-karya guru tersebut diakui dan dipercaya oleh pihak murid, guru lain, kepala sekolah, dan para ahli pendidikan lainnya yang terkait dengan assessment. Seorang guru yang dapat dipercaya tidak hanya dilihat dari segi logika maupun rasionalitasnya melainkan dengan memberikan contoh/teladan yang baik bagi anak didiknya. Dalam filsafat, akuntabel juga bisa diartikan sebagai isi karena isi ilmu yang diamanahkan kepada guru tersebut bisa diaplikasikan dalam hal pembuatan hasil karya ilmiah berupa media pendidikan, alat peraga, pengembangan instrumen pendidikan yang inovatif serta jurnal ilmiah pendidikan yang memberikan sumbangsih terhadap dunia pendidikan.
Tuntutan terhadap guru matematika tidak hanya Akuntabilitas saja melainkan juga Substansibilitas. Substansibilitas artinya kemampuan guru dalam memiliki isi/muatan/content yang berguna untuk dibagikan isinya kepada orang lain. Substansibilitas juga berarti kemampuan guru sebagai wadah bagi murid-muridnya dan memiliki ilmu yang akan dibagikan ke murid-muridnya.  Guru yang substansif adalah guru yang tidak hanya memikirkan kewajiban untuk memberikan ilmu saja kepada murid-murid melainkan juga mampu menyeimbangkan antara Intuisi dan Rasionalitas pada siswa.
Mengapa Intuisi dan Rasionalitas penting bagi siswa dalam belajar matematika ?
Intuisi dan Rasionalitas merupakan 2 hal yang tidak boleh dipisahkan dalam teori belajar matematika. Immanuel Kant dalam bukunya “The Critique of Pure Reason” menyatakan bahwa “Pikiran manusia itu akan selalu menimbulkan banyak pertanyaan dan kita tidak bisa menolak pertanyaan-pertanyaan tersebut karena pertanyaan tersebut sudah sesuai dengan kodratnya.  Akan tetapi, sebagian dari pikiran manusia itu banyak yang tidak bisa menjawab pertanyaan. Hal ini dikarenakan setiap aspek dari pikiran manusia itu akan menimbulkan kemampuan berpikir
Sepenggal pernyataan di atas yang berbunyi “Akan tetapi, sebagian dari pikiran manusia itu banyak yang tidak bisa menjawab pertanyaan” artinya bahwa jawaban atas pertanyaan manusia itu tidak selalu berdasar atas nalar/logika melainkan lewat intuisi/insting/naluri manusia.
Peran intuisi dalam matematika yaitu memberikan gambaran yang jelas tentang landasan, struktur dan kebenaran matematika. Intuisi yang dibangun dalam matematika adalah intuisi murni yang berdasarkan atas konsep ruang dan waktu. Mengkolaborasikan antara konsep ruang dan waktu mengajarkan bahwa belajar matematika itu harus menyesuaikan konteks ruang dan waktu siswa yang berlandaskan pada pengalaman hidup siswa serta bersifat Sintesis Ilmu.

Contoh Intuisi Waktu :
Jika kita memikirkan penjumlahan  4 + 5 = 9. Secara intuisi, 4 dan 5 adalah konsep-konsep yang berbeda dan 9 adalah konsep yang lain pula. Jadi 4 + 5 telah menghasilkan konsep yang baru yaitu 9 dan hal demikian tentunya bersifat sintetik.
Jika di simak dari struktur kalimat, pernyataan “4 + 5 = 9” mempunyai “4 + 5” sebagai subyek dan “9” sebagai predikat. Konsep yang terkandung di dalam predikat yaitu konsep 9, tidak terkandung di dalam konsep “4+5”, yaitu bahwa subyek tidak memuat predikat. Hal demikianlah yang menurut Kant sebagai prinsip sintetik dalam aritmetika. Dengan demikian, menurut Kant, di dalam matematika kita tidak cukup hanya mendefinisikan suatu konsep, karena mendefinisikan hanyalah bersifat analitik. Oleh karena itu kita harus mensistesiskannya/mengkolaborasikan antar keduanya dalam sintesis.

Menurut Kant, konsep bilangan di dalam aritmetika diperoleh dalam intuisi waktu. Di dalam penjumlahan 4 + 5, representasi 4 tentunya mendahului representasi 5, dan representasi 4+5 mendahului representasi 9. Untuk membuktikan bahwa 4 + 5 = 9, menurut Kant, kita harus memperhatikan kejadiannya. Saat ini, diberikan 4, saat kemudian diberikan 5 dan saat berikutnya lagi dibuktikan hasilnya 9. Dengan demikian dalam konstruksi konsep aritmetika ditemukan urutan langkah dalam intuisi waktu.

Contoh Intuisi Ruang :
Begitu pula Intuisi Ruang disesuaikan dengan empiris/pengalaman hidup siswa, misal : konsep “4 itik” ditambah dengan konsep “5 ayam” tidak harus sama dengan “9 hewan” tetapi bisa saja menjadi “4 itik dan 5 ayam”. Hal ini menandakan bahwa secara konteks keruangan, “4 + 5” tidak harus memiliki hasil “9”. Hasil yang didapatkan tersebut bersifat relatif.

Dari sedikit contoh di atas, menggambarkan bahwa Substansibilitas seorang guru akan mempengaruhi kinerja Akuntabilitasnya. Dengan memperhatikan konsep Rasionalitas dan Empiris yang terdapat dalam intuisi ruang dan waktu maka guru akan lebih mudah untuk menerapkan metode pembelajaran yang menarik dan kontekstual bagi siswa. Dengan metode pembelajaran yang kontekstual dan menekankan pada keaktivan siswa maka guru bisa mengambil data dengan melakukan penilaian kinerja keaktifan siswa tersebut kemudian memaparkan hasil kerja siswa dan dikembangkan sebagai Hasil Karya Guru yang benar-benar Akuntabel. Semoga kita mengaplikasikannya....

Selamat Berjuang Para Guru Matematika !!