Memahami
siapa diriku melalui bahasan Filsafat merujuk pada suatu dimensi ruang dan
waktu karena mendefinisikan tentang siapa sebenarnya manusia bersifat relatif
terhadap ruang dan waktu. Misal : Jika dipandang dari lingkup Sekolah maka
diriku adalah Seorang Guru Matematika, jika dipandang dari lingkup Kampus UNY
maka diriku adalah Seorang Mahasiswa, jika dilihat dari lingkup Rumah maka
diriku adalah Seorang Anak Dari Orang Tuaku. Begitu pula pendefinisian Diriku sesuai
dimensi waktu. Dalam waktu yang berbeda maka Diriku juga memiliki peran yang
berbeda pula, misal : diriku seorang Otoriter pada saat menangkap pencuri,
diriku seorang Kapitalis pada saat Berdagang, diriku seorang Spiritualis pada
saat Berdoa, diriku seorang Idealis pada saat diriku mampu memikirkan
matematika, dan masih banyak lagi lainnya. Seorang Diriku saja bisa berarti bermacam-macam
apalagi dengan Dirimu, Dirimu 1, Dirimu 2, dan seterusnya hingga Dirimu n. Perbedaan definisi-definisi ini
disebabkan karena Dunia itu memiliki berbagai macam dimensi ruang dan waktu
baik yang ada dan yang mungkin ada.
Komunikasi
dalam Filsafat menggunakan bahasa Analog. Cara mengkomunikasikan definisi dari
“Siapakah Aku” dengan menggunakan dimensi 1 sampai dengan 4 dianalogikan
sebagai berikut :
1. Dimensi
Material, Aku adalah Ragaku (Manusia), jika dipukul terasa sakit, jika dilihat
akan tampak, dan jika dilihat secara fisik maka aku adalah kumpulan
anggota-anggota tubuh.
2. Dimensi
Formal, Aku adalah gelarku dan jabatanku
3. Dimensi
Normative, Aku adalah pikiranku/ideku
4. Dimensi
Spiritual, Aku adalah doaku
Jika keempat dimensi tersebut
diperluas lagi dengan cakupan yang lebih luas maka “Diriku” itu sebenarnya
meliputi hal-hal yang ada dan yang mungkin ada. Diriku (Diri kita masing-masing)
pada dasarnya adalah pikiran kita sendiri sehingga jika Aku sedang memikirkan
Perancis maka belum tentu Dirimu juga sedang memikirkan Perancis (bisa saja
Dirimu sedang memikirkan Jepang). Contoh lain, Diriku saat ini sedang menjadi
Guru maka pada saat yang sama Dirimu sedang menjadi Pembeli. Hal tersebut
membuat Pikiranku tidak sama dengan Pikiranmu, Ruangku tidak sama dengan
Ruangmu, bahkan Waktuku pun tidak sama dengan Waktumu. Perbedaan Ruang dan
Waktu yang dimiliki oleh setiap manusia ini merupakan Pergulatan manusia dalam
menggapai Takdir. Untuk menembus berbagai ruang dan waktu, manusia bergulat
dengan serangkaian kegiatan, tugas serta kewajibannya untuk mendapatkan apa
yang menjadi tujuan hidupnya sehingga bisa mengubah nasibnya masing-masing. Hal
ini sangat berkaitan erat dengan Teori Fenomenologi-nya Husserl bahwa keeksistensian
manusia meliputi 2 kesadaran, yaitu :
1. 1. Abstraksi
Teori
Abstraksi ini menangkap kesadaran manusia akan Kodrat TUHAN (Kesadaran akan
sesuatu yang memang sudah Takdir TUHAN dan kita tidak boleh menyangkalnya). Manusia
harus menyadari bahwa “apa yang tampak terdapat hal yang tidak tampak”, artinya
kita harus menerima kodrat dari TUHAN bahwa kita dilahirkan dari rahim seorang
Ibu X atau Ibu Y atau kodrat kita terlahir sebagai perempuan atau laki-laki.
Kesadaran Abstraksi ini melahirkan suatu Reduksi Transendental/Epoche yang
berarti bahwa kita harus menyaring/memilih suatu obyek untuk dilepaskan dari
pikiran/rasio manusia (teori-teori terjadinya fenomena) kemudian membiarkan
fenomena itu berjalan dengan sendirinya. Kesadaran Abstraksi ini tidak bisa
diteliti manusia secara ilmiah.
2. 2. Idealisasi
Kesadaran
Idealisasi/Kesadaran atas Pikiran menghasilkan
pengetahuan kesadaran murni. Dalam kaitannya dengan eksistensi manusia,
Idealisasi adalah proses terjadinya manusia secara teoritis dan hal tersebut
bisa diteliti secara ilmiah.
Keeksistensian
menurut Husserl di atas secara langsung berhubungan dengan Spiritual Metafisik
Transenden, yaitu bahwa keberadaan manusia terletak di antara Vital dan Fatal. Vital
yang berarti usaha/ikhtiar dan Fatal yang berarti takdir/nasib. Untuk mengubah
nasib kita maka kita harus berusaha/ikhtiar, jikalau kita sudah berikhtiar
secara maksimal maka hasilnya kita serahkan kepada TUHAN YME untuk memperoleh
nasib kita. Filsafat mengajarkan kepada kita bahwa untuk mencapai kesuksesan
hidup, manusia harus menyeimbangkan antara olah pikir/ikhtiar dengan berdoa (spiritual)
karena setinggi-tingginya usaha dan berpikir jika tidak diimbangi dengan berdoa
kepada TUHAN maka hasilnya juga tidak akan berkah/sia-sia. Jadi, bisa
disimpulkan bahwa Diriku adalah proses ikhtiarku melalui Dimensi Material,
Dimensi Formal, Dimensi Normative hingga Spiritual hingga tercapai tujuan
terakhirku yaitu Akhirat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar