Minggu, 18 November 2012

Siapakah Diriku ?



Memahami siapa diriku melalui bahasan Filsafat merujuk pada suatu dimensi ruang dan waktu karena mendefinisikan tentang siapa sebenarnya manusia bersifat relatif terhadap ruang dan waktu. Misal : Jika dipandang dari lingkup Sekolah maka diriku adalah Seorang Guru Matematika, jika dipandang dari lingkup Kampus UNY maka diriku adalah Seorang Mahasiswa, jika dilihat dari lingkup Rumah maka diriku adalah Seorang Anak Dari Orang Tuaku. Begitu pula pendefinisian Diriku sesuai dimensi waktu. Dalam waktu yang berbeda maka Diriku juga memiliki peran yang berbeda pula, misal : diriku seorang Otoriter pada saat menangkap pencuri, diriku seorang Kapitalis pada saat Berdagang, diriku seorang Spiritualis pada saat Berdoa, diriku seorang Idealis pada saat diriku mampu memikirkan matematika, dan masih banyak lagi lainnya. Seorang Diriku saja bisa berarti bermacam-macam apalagi dengan Dirimu, Dirimu 1, Dirimu 2, dan seterusnya hingga Dirimu n. Perbedaan definisi-definisi ini disebabkan karena Dunia itu memiliki berbagai macam dimensi ruang dan waktu baik yang ada dan yang mungkin ada.
Komunikasi dalam Filsafat menggunakan bahasa Analog. Cara mengkomunikasikan definisi dari “Siapakah Aku” dengan menggunakan dimensi 1 sampai dengan 4 dianalogikan sebagai berikut :
1.   Dimensi Material, Aku adalah Ragaku (Manusia), jika dipukul terasa sakit, jika dilihat akan tampak, dan jika dilihat secara fisik maka aku adalah kumpulan anggota-anggota tubuh.
2.      Dimensi Formal, Aku adalah gelarku dan jabatanku
3.      Dimensi Normative, Aku adalah pikiranku/ideku
4.      Dimensi Spiritual, Aku adalah doaku
Jika keempat dimensi tersebut diperluas lagi dengan cakupan yang lebih luas maka “Diriku” itu sebenarnya meliputi hal-hal yang ada dan yang mungkin ada. Diriku (Diri kita masing-masing) pada dasarnya adalah pikiran kita sendiri sehingga jika Aku sedang memikirkan Perancis maka belum tentu Dirimu juga sedang memikirkan Perancis (bisa saja Dirimu sedang memikirkan Jepang). Contoh lain, Diriku saat ini sedang menjadi Guru maka pada saat yang sama Dirimu sedang menjadi Pembeli. Hal tersebut membuat Pikiranku tidak sama dengan Pikiranmu, Ruangku tidak sama dengan Ruangmu, bahkan Waktuku pun tidak sama dengan Waktumu. Perbedaan Ruang dan Waktu yang dimiliki oleh setiap manusia ini merupakan Pergulatan manusia dalam menggapai Takdir. Untuk menembus berbagai ruang dan waktu, manusia bergulat dengan serangkaian kegiatan, tugas serta kewajibannya untuk mendapatkan apa yang menjadi tujuan hidupnya sehingga bisa mengubah nasibnya masing-masing. Hal ini sangat berkaitan erat dengan Teori Fenomenologi-nya Husserl bahwa keeksistensian manusia meliputi 2 kesadaran, yaitu :
1.      1. Abstraksi
   Teori Abstraksi ini menangkap kesadaran manusia akan Kodrat TUHAN (Kesadaran akan sesuatu yang  memang sudah Takdir TUHAN dan kita tidak boleh menyangkalnya). Manusia harus menyadari bahwa “apa yang tampak terdapat hal yang tidak tampak”, artinya kita harus menerima kodrat dari TUHAN bahwa kita dilahirkan dari rahim seorang Ibu X atau Ibu Y atau kodrat kita terlahir sebagai perempuan atau laki-laki. Kesadaran Abstraksi ini melahirkan suatu Reduksi Transendental/Epoche yang berarti bahwa kita harus menyaring/memilih suatu obyek untuk dilepaskan dari pikiran/rasio manusia (teori-teori terjadinya fenomena) kemudian membiarkan fenomena itu berjalan dengan sendirinya. Kesadaran Abstraksi ini tidak bisa diteliti manusia secara ilmiah.
2.       2.   Idealisasi
   Kesadaran Idealisasi/Kesadaran atas Pikiran menghasilkan pengetahuan kesadaran murni. Dalam kaitannya dengan eksistensi manusia, Idealisasi adalah proses terjadinya manusia secara teoritis dan hal tersebut bisa diteliti secara ilmiah. 

Keeksistensian menurut Husserl di atas secara langsung berhubungan dengan Spiritual Metafisik Transenden, yaitu bahwa keberadaan manusia terletak di antara Vital dan Fatal. Vital yang berarti usaha/ikhtiar dan Fatal yang berarti takdir/nasib. Untuk mengubah nasib kita maka kita harus berusaha/ikhtiar, jikalau kita sudah berikhtiar secara maksimal maka hasilnya kita serahkan kepada TUHAN YME untuk memperoleh nasib kita. Filsafat mengajarkan kepada kita bahwa untuk mencapai kesuksesan hidup, manusia harus menyeimbangkan antara olah pikir/ikhtiar dengan berdoa (spiritual) karena setinggi-tingginya usaha dan berpikir jika tidak diimbangi dengan berdoa kepada TUHAN maka hasilnya juga tidak akan berkah/sia-sia. Jadi, bisa disimpulkan bahwa Diriku adalah proses ikhtiarku melalui Dimensi Material, Dimensi Formal, Dimensi Normative hingga Spiritual hingga tercapai tujuan terakhirku yaitu Akhirat.

Tidak ada komentar: