Selasa, 04 Desember 2012

Apakah Kita Sudah Akuntabel ?



Runtyani Irjayanti Putri
PMAT C PPS UNY
12709251015


Akuntabel berasal dari istilah bahasa inggris  Accountable  yang  terdiri atas suku kata “Account” yang berarti menghitung dan “Able” yang berarti mampu. Jadi, arti kata Akuntabel disini bukan berarti mampu menghitung atau pintar menghitung, melainkan dapat dipercaya atau dapat dipertanggungjawabkan. Seseorang yang akuntabel adalah seseorang yang dapat dipercaya baik dari segi ucapannya maupun perbuatannya.
Jika kita berbicara Akuntabel dalam Filsafat Pendidikan Matematika maka Akuntabel dalam hal ini adalah tuntutan bagi seorang guru agar menjadi guru yang dapat dipercaya. Dapat dipercaya artinya bahwa karya-karya guru tersebut diakui dan dipercaya oleh pihak murid, guru lain, kepala sekolah, dan para ahli pendidikan lainnya yang terkait dengan assessment. Seorang guru yang dapat dipercaya tidak hanya dilihat dari segi logika maupun rasionalitasnya melainkan dengan memberikan contoh/teladan yang baik bagi anak didiknya. Dalam filsafat, akuntabel juga bisa diartikan sebagai isi karena isi ilmu yang diamanahkan kepada guru tersebut bisa diaplikasikan dalam hal pembuatan hasil karya ilmiah berupa media pendidikan, alat peraga, pengembangan instrumen pendidikan yang inovatif serta jurnal ilmiah pendidikan yang memberikan sumbangsih terhadap dunia pendidikan.
Tuntutan terhadap guru matematika tidak hanya Akuntabilitas saja melainkan juga Substansibilitas. Substansibilitas artinya kemampuan guru dalam memiliki isi/muatan/content yang berguna untuk dibagikan isinya kepada orang lain. Substansibilitas juga berarti kemampuan guru sebagai wadah bagi murid-muridnya dan memiliki ilmu yang akan dibagikan ke murid-muridnya.  Guru yang substansif adalah guru yang tidak hanya memikirkan kewajiban untuk memberikan ilmu saja kepada murid-murid melainkan juga mampu menyeimbangkan antara Intuisi dan Rasionalitas pada siswa.
Mengapa Intuisi dan Rasionalitas penting bagi siswa dalam belajar matematika ?
Intuisi dan Rasionalitas merupakan 2 hal yang tidak boleh dipisahkan dalam teori belajar matematika. Immanuel Kant dalam bukunya “The Critique of Pure Reason” menyatakan bahwa “Pikiran manusia itu akan selalu menimbulkan banyak pertanyaan dan kita tidak bisa menolak pertanyaan-pertanyaan tersebut karena pertanyaan tersebut sudah sesuai dengan kodratnya.  Akan tetapi, sebagian dari pikiran manusia itu banyak yang tidak bisa menjawab pertanyaan. Hal ini dikarenakan setiap aspek dari pikiran manusia itu akan menimbulkan kemampuan berpikir
Sepenggal pernyataan di atas yang berbunyi “Akan tetapi, sebagian dari pikiran manusia itu banyak yang tidak bisa menjawab pertanyaan” artinya bahwa jawaban atas pertanyaan manusia itu tidak selalu berdasar atas nalar/logika melainkan lewat intuisi/insting/naluri manusia.
Peran intuisi dalam matematika yaitu memberikan gambaran yang jelas tentang landasan, struktur dan kebenaran matematika. Intuisi yang dibangun dalam matematika adalah intuisi murni yang berdasarkan atas konsep ruang dan waktu. Mengkolaborasikan antara konsep ruang dan waktu mengajarkan bahwa belajar matematika itu harus menyesuaikan konteks ruang dan waktu siswa yang berlandaskan pada pengalaman hidup siswa serta bersifat Sintesis Ilmu.

Contoh Intuisi Waktu :
Jika kita memikirkan penjumlahan  4 + 5 = 9. Secara intuisi, 4 dan 5 adalah konsep-konsep yang berbeda dan 9 adalah konsep yang lain pula. Jadi 4 + 5 telah menghasilkan konsep yang baru yaitu 9 dan hal demikian tentunya bersifat sintetik.
Jika di simak dari struktur kalimat, pernyataan “4 + 5 = 9” mempunyai “4 + 5” sebagai subyek dan “9” sebagai predikat. Konsep yang terkandung di dalam predikat yaitu konsep 9, tidak terkandung di dalam konsep “4+5”, yaitu bahwa subyek tidak memuat predikat. Hal demikianlah yang menurut Kant sebagai prinsip sintetik dalam aritmetika. Dengan demikian, menurut Kant, di dalam matematika kita tidak cukup hanya mendefinisikan suatu konsep, karena mendefinisikan hanyalah bersifat analitik. Oleh karena itu kita harus mensistesiskannya/mengkolaborasikan antar keduanya dalam sintesis.

Menurut Kant, konsep bilangan di dalam aritmetika diperoleh dalam intuisi waktu. Di dalam penjumlahan 4 + 5, representasi 4 tentunya mendahului representasi 5, dan representasi 4+5 mendahului representasi 9. Untuk membuktikan bahwa 4 + 5 = 9, menurut Kant, kita harus memperhatikan kejadiannya. Saat ini, diberikan 4, saat kemudian diberikan 5 dan saat berikutnya lagi dibuktikan hasilnya 9. Dengan demikian dalam konstruksi konsep aritmetika ditemukan urutan langkah dalam intuisi waktu.

Contoh Intuisi Ruang :
Begitu pula Intuisi Ruang disesuaikan dengan empiris/pengalaman hidup siswa, misal : konsep “4 itik” ditambah dengan konsep “5 ayam” tidak harus sama dengan “9 hewan” tetapi bisa saja menjadi “4 itik dan 5 ayam”. Hal ini menandakan bahwa secara konteks keruangan, “4 + 5” tidak harus memiliki hasil “9”. Hasil yang didapatkan tersebut bersifat relatif.

Dari sedikit contoh di atas, menggambarkan bahwa Substansibilitas seorang guru akan mempengaruhi kinerja Akuntabilitasnya. Dengan memperhatikan konsep Rasionalitas dan Empiris yang terdapat dalam intuisi ruang dan waktu maka guru akan lebih mudah untuk menerapkan metode pembelajaran yang menarik dan kontekstual bagi siswa. Dengan metode pembelajaran yang kontekstual dan menekankan pada keaktivan siswa maka guru bisa mengambil data dengan melakukan penilaian kinerja keaktifan siswa tersebut kemudian memaparkan hasil kerja siswa dan dikembangkan sebagai Hasil Karya Guru yang benar-benar Akuntabel. Semoga kita mengaplikasikannya....

Selamat Berjuang Para Guru Matematika !!

Senin, 26 November 2012

Pengaruh Mitos Terhadap Kehidupan Manusia



Kehidupan setiap manusia diawali dari sebuah kelahiran dan diakhiri dengan kematian. Proses tumbuh kembang seorang manusia dari bayi hingga dewasa melalui berbagai tahapan kejadian. Bagian dari kejadian tersebut adalah mitos. Arti Mitos sebenarnya adalah melakukan sesuatu tetapi kita tidak mengerti alasan mengapa kita melakukannya. Hal ini pastinya dialami oleh setiap orang pada saat ia bayi hingga berusia 2 tahun dan beranjak anak-anak, segala sesuatu yang ia lakukan atas dasar apa yang ia lihat dan ia rasakan. Oleh karena itu, kita sebagai orang dewasa harus mengerti betul bagaimana memahami proses berpikir seorang anak. Proses berpikir seorang anak lazimnya berkembang sesuai dengan tahapan usia pertumbuhan dan perkembangan. Proses tumbuh kembang seorang anak layaknya sebuah perjalanan Filsafat yang berkembang dari awal hingga akhir.

Lantas apa hubungan antara Filsafat dengan Perjalanan Hidup dan Kehidupan Seorang Manusia ?

Filsafat adalah ilmu olah pikir yang mengalir baik secara intensif dan ekstensif. Pikiran yang mengalir tersebut sama mengalirnya dengan awal tumbuhnya sebuah mitos. Mitos muncul pada saat bayi hingga anak-anak, dan semakin beranjak dewasa kemudian berangsur tua, kadar mitos itu semakin mengecil. Hal ini dikarenakan perkembangan pola pikir seorang manusia berpengaruh terhadap tujuan dan alasan atas apa yang ia lakukan. Sebuah Mitos tidak selamanya berarti negatif. Bagi masyarakat daerah-daerah tertentu di Indonesia terutama daerah Jawa dan Jogja, mitos masih sangat berlaku terutama dalam ranah Folklore atau cerita rakyat yang di dalamnya memuat unsur-unsur magis atau mistik. Cerita-cerita mistik lebih menekankan larangan/aturan yang masyarakatnya dilarang untuk melakukan sesuatu dengan alasan yang kadang tidak logis. Namun, tidak semua larangan/aturan yang tidak masuk akal itu selalu bernilai negatif, pasti ada hikmah positif yang terkandung di dalamnya yaitu terciptanya budaya peka rasa, sensitif, rasa saling menghargai dan menghormati. Hal tersebut, sangatlah berbeda dengan orang-orang Yunani yang merupakan Nenek Moyang bangsa Eropa, dimana hidup mereka lebih menekankan unsur Rasio ketimbang Mitos. Itulah sebabnya, mengapa perkembangan pola pikir bangsa Eropa lebih melesat jauh dibandingkan dengan bangsa kita sehingga sumber teknologi pun berasal dari mereka.
      Pengalaman Filsafat tentang Mitos juga terlahir semenjak Gereja-Gereja Ortodok di Eropa berkeyakinan keras bahwa bumi merupakan pusat tata surya (Geosentris). Seiring berjalannya waktu, muncullah Copernicus (Seorang Ahli Sains) yang menyangkal pendapat Gereja bahwa bukan bumi yang merupakan pusat tata surya melainkan matahari (Heliosentris). Hal inilah yang membuat Gereja geram dan berusaha memusnahkan seluruh referensi orang-orang Yunani Kuno yang notabene ahli dalam bidang ilmu Eksak dan Sains.
            Seiring dengan perkembangan jaman di mana Gereja mendapat tamparan keras dari ahli Sains  dan serta merta terjadi kekalahan penganut Gereja dengan umat Islam pada Perang Salib membuat Gereja luluh dan pada akhirnya membebaskan para penganutnya untuk berpikir, berpendapat, dan menciptakan temuan-temuan ilmiah. Hal inilah yang membuat masyarakat Eropa (penganut Gereja) berlomba-lomba untuk melakukan temuan-temuan dalam bidang teknologi, sains, serta hukum.
       Perkembangan temuan-temuan bangsa-bangsa Eropa meluas hingga menciptakan negara-negara Industri yang pada akhirnya menjadi Powernoun/penguasa dunia. Sifat kuasa dari para penguasa melahirkan pola pikir Pragmatis, Hedonis, Utilitarian, Materialisme yang pada akhirnya berujung pada Kapitalisme. Pola pikir Kapitalisme adalah pola pikir yang selalu berusaha mencari keuntungan sebanyak-banyaknya dengan menguasai negara atau bangsa-bangsa lain yang dinilai menghasilkan banyak keuntungan. Oleh karena itu, mengingat budaya pola pikir Kapitalisme yang merajalela dan berpengaruh terhadap generasi selanjutnya maka Filsuf Paul Ernest memetakan dunia pendidikan ke dalam 5 bagian, diantaranya :
             1.    Peta Industrialis dan Technological Pragmatism
    Peta ini mendidik para generasi dengan pola pikir Pragmatis, Hedonis, Utilitarian, Materialisme dan menekankan bahwa pendidikan hanya berpusat pada tuntutan teknologi. Pendidikan ini menghasilkan generasi kaum-kaum kapitalisme.
            2.    Dunia Pendidikan Kaum Konservatif
     Dunia pendidikan ini menginginkan untuk melanjutkan nilai-nilai lama dalam pendidikan.
            3.    Dunia Pendidikan Old Humanis
  Pendidikan yang mengajarkan bahwa segala sesuatu berpusat pada manusia dan tidak mementingkan adanya TUHAN.
            4.    Dunia Pendidikan Progresif
                 Pendidikan yang menekankan pada sifat membangun/Konstruktivisme.
            5.    Dunia Pendidikan Sosio Konstruktivis
     Pendidikan yang menekankan pada sifat membangun/Konstruktivisme serta nilai-nilai sosial.

 Kelima peta dunia menurut Paul Ernest di atas merupakan bukti bahwa perjuangan dan perjalanan hidup seorang manusia pada dasarnya adalah untuk mengerti dan memerangi mitos dimana mitos tidak menunjukkan pola berpikir yang progresif, intensif, dan ekstensif. Pola berpikir yang TIDAK progresif, intensif, dan  ekstensif merupakan pantangan dalam belajar Filsafat.

Minggu, 18 November 2012

Siapakah Diriku ?



Memahami siapa diriku melalui bahasan Filsafat merujuk pada suatu dimensi ruang dan waktu karena mendefinisikan tentang siapa sebenarnya manusia bersifat relatif terhadap ruang dan waktu. Misal : Jika dipandang dari lingkup Sekolah maka diriku adalah Seorang Guru Matematika, jika dipandang dari lingkup Kampus UNY maka diriku adalah Seorang Mahasiswa, jika dilihat dari lingkup Rumah maka diriku adalah Seorang Anak Dari Orang Tuaku. Begitu pula pendefinisian Diriku sesuai dimensi waktu. Dalam waktu yang berbeda maka Diriku juga memiliki peran yang berbeda pula, misal : diriku seorang Otoriter pada saat menangkap pencuri, diriku seorang Kapitalis pada saat Berdagang, diriku seorang Spiritualis pada saat Berdoa, diriku seorang Idealis pada saat diriku mampu memikirkan matematika, dan masih banyak lagi lainnya. Seorang Diriku saja bisa berarti bermacam-macam apalagi dengan Dirimu, Dirimu 1, Dirimu 2, dan seterusnya hingga Dirimu n. Perbedaan definisi-definisi ini disebabkan karena Dunia itu memiliki berbagai macam dimensi ruang dan waktu baik yang ada dan yang mungkin ada.
Komunikasi dalam Filsafat menggunakan bahasa Analog. Cara mengkomunikasikan definisi dari “Siapakah Aku” dengan menggunakan dimensi 1 sampai dengan 4 dianalogikan sebagai berikut :
1.   Dimensi Material, Aku adalah Ragaku (Manusia), jika dipukul terasa sakit, jika dilihat akan tampak, dan jika dilihat secara fisik maka aku adalah kumpulan anggota-anggota tubuh.
2.      Dimensi Formal, Aku adalah gelarku dan jabatanku
3.      Dimensi Normative, Aku adalah pikiranku/ideku
4.      Dimensi Spiritual, Aku adalah doaku
Jika keempat dimensi tersebut diperluas lagi dengan cakupan yang lebih luas maka “Diriku” itu sebenarnya meliputi hal-hal yang ada dan yang mungkin ada. Diriku (Diri kita masing-masing) pada dasarnya adalah pikiran kita sendiri sehingga jika Aku sedang memikirkan Perancis maka belum tentu Dirimu juga sedang memikirkan Perancis (bisa saja Dirimu sedang memikirkan Jepang). Contoh lain, Diriku saat ini sedang menjadi Guru maka pada saat yang sama Dirimu sedang menjadi Pembeli. Hal tersebut membuat Pikiranku tidak sama dengan Pikiranmu, Ruangku tidak sama dengan Ruangmu, bahkan Waktuku pun tidak sama dengan Waktumu. Perbedaan Ruang dan Waktu yang dimiliki oleh setiap manusia ini merupakan Pergulatan manusia dalam menggapai Takdir. Untuk menembus berbagai ruang dan waktu, manusia bergulat dengan serangkaian kegiatan, tugas serta kewajibannya untuk mendapatkan apa yang menjadi tujuan hidupnya sehingga bisa mengubah nasibnya masing-masing. Hal ini sangat berkaitan erat dengan Teori Fenomenologi-nya Husserl bahwa keeksistensian manusia meliputi 2 kesadaran, yaitu :
1.      1. Abstraksi
   Teori Abstraksi ini menangkap kesadaran manusia akan Kodrat TUHAN (Kesadaran akan sesuatu yang  memang sudah Takdir TUHAN dan kita tidak boleh menyangkalnya). Manusia harus menyadari bahwa “apa yang tampak terdapat hal yang tidak tampak”, artinya kita harus menerima kodrat dari TUHAN bahwa kita dilahirkan dari rahim seorang Ibu X atau Ibu Y atau kodrat kita terlahir sebagai perempuan atau laki-laki. Kesadaran Abstraksi ini melahirkan suatu Reduksi Transendental/Epoche yang berarti bahwa kita harus menyaring/memilih suatu obyek untuk dilepaskan dari pikiran/rasio manusia (teori-teori terjadinya fenomena) kemudian membiarkan fenomena itu berjalan dengan sendirinya. Kesadaran Abstraksi ini tidak bisa diteliti manusia secara ilmiah.
2.       2.   Idealisasi
   Kesadaran Idealisasi/Kesadaran atas Pikiran menghasilkan pengetahuan kesadaran murni. Dalam kaitannya dengan eksistensi manusia, Idealisasi adalah proses terjadinya manusia secara teoritis dan hal tersebut bisa diteliti secara ilmiah. 

Keeksistensian menurut Husserl di atas secara langsung berhubungan dengan Spiritual Metafisik Transenden, yaitu bahwa keberadaan manusia terletak di antara Vital dan Fatal. Vital yang berarti usaha/ikhtiar dan Fatal yang berarti takdir/nasib. Untuk mengubah nasib kita maka kita harus berusaha/ikhtiar, jikalau kita sudah berikhtiar secara maksimal maka hasilnya kita serahkan kepada TUHAN YME untuk memperoleh nasib kita. Filsafat mengajarkan kepada kita bahwa untuk mencapai kesuksesan hidup, manusia harus menyeimbangkan antara olah pikir/ikhtiar dengan berdoa (spiritual) karena setinggi-tingginya usaha dan berpikir jika tidak diimbangi dengan berdoa kepada TUHAN maka hasilnya juga tidak akan berkah/sia-sia. Jadi, bisa disimpulkan bahwa Diriku adalah proses ikhtiarku melalui Dimensi Material, Dimensi Formal, Dimensi Normative hingga Spiritual hingga tercapai tujuan terakhirku yaitu Akhirat.

Senin, 01 Oktober 2012

A Journey of Philosophy

                                                    Sebuah Perjalanan Dari Hulu Ke Hilir

Kelahiran Filsafat Ilmu diawali dari Sejarah Filsafat Yunani yang dimulai sekitar abad ke-6 SM. Zaman Filsafat Yunani sering disebut juga zaman peralihan dari mitos ke logos yaitu peralihan dari hal-hal kepercayaan Ghaib menjadi kepercayaan menurut rasio (pemikiran).  Filsafat Yunani ini melahirkan suatu Grant Ideas of Philoshopy (Pemikiran Terbesar Sepanjang Sejarah Filsafat)  yang terbagi menjadi 2, yaitu :
1.Filsafat beraliran Tetap (Tesis)
  Tokoh-tokoh yang berpengaruh pada aliran ini meliputi :
  a) Parmenides
     Parmenides berpendapat bahwa segala sesuatu “yang ada” tidak berubah. Parmenides tidak mendefinisikan apa yang dimaksud “yang ada” namun menyebutkan sifat-sifatnya. Menurutnya, “yang ada” itu bersifat meliputi segala sesuatu, tidak bergerak, tidak berubah, dan tidak terhancurkan. Selain itu, “yang ada” itu juga tidak tergoyahkan dan tidak dapat disangkal. Menurut Parmenides, “yang ada” adalah kebenaran yang tidak mungkin disangkal. Bila ada yang menyangkalnya, maka ia akan jatuh pada kontradiksi. Hal itu dapat dijelaskan melalui pengandaian yang diberikan oleh Parmenides, yaitu :
    1)Pertama, orang dapat mengatakan bahwa "yang ada" itu tidak ada.
    2)Kedua, orang dapat mengatakan bahwa "yang ada" dan "yang tidak ada" itu bersama-sama ada.
     Kedua pengandaian ini mustahil. Pengandaian pertama mustahil, sebab "yang tidak ada" tidak dapat dipikirkan dan tidak dapat dibicarakan. "Yang tidak ada" tidak dapat dipikirkan dan dibicarakan. Pengandaian kedua merupakan pandangan dari Herakleitos. Pengandaian ini juga mustahil, sebab pengandaian kedua menerima pengandaian pertama, bahwa "yang tidak ada" itu ada, padahal pengandaian pertama terbukti mustahil. Dengan demikian, kesimpulannya adalah "Yang tidak ada" itu tidak ada, sehingga hanya "yang ada" yang dapat dikatakan ada.
     Untuk lebih memahami pemikiran Parmenides, dapat digunakan contoh berikut ini. Misalnya saja, seseorang menyatakan “Tuhan itu tidak ada !!”, di sini, Tuhan yang eksistensinya ditolak orang itu sebenarnya ada, maksudnya harus diterima sebagai dia "Yang Ada". Hal ini disebabkan bila orang itu mengatakan "Tuhan itu tidak ada", maka orang itu sudah terlebih dulu memikirkan suatu konsep tentang Tuhan. Barulah setelah itu, konsep Tuhan yang dipikirkan orang itu disanggah olehnya sendiri dengan menyatakan "Tuhan itu tidak ada". Dengan demikian, Tuhan sebagai yang dipikirkan oleh orang itu "ada" walaupun hanya di dalam pikirannya sendiri. Sedangkan penolakan terhadap sesuatu, pastilah mengandaikan bahwa sesuatu itu "ada" sehingga "yang tidak ada" itu tidaklah mungkin. Oleh karena "yang ada" itu selalu dapat dikatakan dan dipikirkan, sebenarnya Parmenides menyamakan antara "yang ada" dengan pemikiran atau akal budi.
     Setelah berargumentasi mengenai "yang ada" sebagai kebenaran, Parmenides juga menyatakan konsekuensi-konsekuensinya sebagai berikut :
     1)    Pertama-tama, "yang ada" adalah satu dan tak terbagi, sedangkan pluralitas tidak mungkin. Hal ini dikarenakan tidak ada sesuatu pun yang dapat memisahkan “yang ada”.
     2)    Kedua, "yang ada" tidak dijadikan dan tidak dapat dimusnahkan. Dengan kata lain, "yang ada" bersifat kekal dan tak terubahkan. Hal itu merupakan konsekuensi logis, sebab bila "yang ada" dapat berubah, maka "yang ada" dapat menjadi tidak ada atau "yang tidak ada" dapat menjadi ada.
     3)    Ketiga, harus dikatakan pula bahwa "yang ada" itu sempurna, seperti sebuah bola yang jaraknya dari pusat ke permukaan semuanya sama. Menurut Parmenides, "yang ada" itu bulat sehingga mengisi semua tempat.
     4)    Keempat, karena "yang ada" mengisi semua tempat, maka disimpulkan bahwa tidak ada ruang kosong. Jika ada ruang kosong, artinya menerima bahwa di luar "yang ada" masih ada sesuatu yang lain. Konsekuensi lainnya adalah gerak menjadi tidak mungkin sebab bila benda bergerak, sebab bila benda bergerak artinya benda menduduki tempat yang tadinya kosong.

  b) Plato
     Plato mendukung ajaran Parmenides, yaitu menganggap bahwa segala sesuatu itu TETAP. Namun, ia juga memiliki paham Idealisme yaitu paham filsafat yang memandang mental dan ideal sebagai kunci ke hakikat realitas. Paham idealisme lebih menekankan hal-hal bersifat ide, dan merendahkan hal-hal yang materi dan fisik. Ajaran Plato mengenai ide ada 2, yaitu :
     1)    Dunia ide-ide yang hanya terbuka bagi rasio kita (Dunia Rasional/Dunia Rohani)
     2)    Dunia jasmani yang hanya terbuka bagi panca indera kita (dunia indrawi)
    Dalam dunia rasional, tidak ada perubahan dan kenisbian. Perubahan dan kenisbian hanya ada dalam dunia indrawi yang memang memperlihatkan ketidakmantapan tanpa henti. Misalnya, Singa A atau Singa B itu pasti akan mati. Namun, pada umumnya, yakni ide singa itu akan tetap ada. Begitu pula gambar segitiga di papan tulis, meskipun gambar segitiga di papan tulis tersebut dapat dihapus tapi ide segitiga itu sama sekali tidak akan terhapus dalam pikiran (ide itu abadi selamanya).

  c) Rene Descartes
     Pahamnya yang terkenal adalah Analytic Apriori dengan unsur dasarnya Konsisten dan dasar hukumnya adalah Identitas. Karya filsafat Descrates dapat dipahami dalam bingkai konteks pemikiran pada masanya, yakni adanya pertentangan antara Scholasticism dengan keilmuan baru Galilean - Copernican. Atas dasar tersebut ia dengan misi filsafatnya berusaha mendapatkan pengetahuan yang tidak dapat diragukan. Metodenya ialah dengan meragukan semua pengetahuan yang ada, yang kemudian mengantarkannya pada kesimpulan bahwa pengetahuan yang ia kategorikan ke dalam tiga bagian dapat diragukan, yaitu :
     1)    Pengetahuan yang berasal dari pengalaman inderawi dapat diragukan, semisal kita memasukan kayu lurus kedalam air maka akan nampak bengkok
     2)    Fakta umum tentang dunia semisal api itu panas dan benda yang berat akan jatuh juga dapat diragukan. Descrates menyatakan bagaimana jika kita mengalami mimpi yang sama berkali-kali dan dari situ kita mendapatkan pengetahuan umum tersebut
     3)    Logika dan Matematika, prinsip-prinsip logika dan matematika juga ia ragukan. Ia menyatakan bagaimana jika ada suatu mahluk yang berkuasa memasukan ilusi dalam pikiran kita, dengan kata lain kita berada dalam suatu matrix.
  Dari keraguan tersebut, Descrates hendak mencari pengetahuan apa yang tidak dapat diragukan. Yang akhirnya mengantarkan pada premisnya Cogito Ergo Sum (aku berpikir maka aku ada). Baginya eksistensi pikiran manusia adalah sesuatu yang absolut dan tidak dapat diragukan. Sebab meskipun pemikirannya tentang sesuatu salah, pikirannya tertipu oleh suatu matriks, ia ragu akan segalanya, tidak dapat diragukan lagi bahwa pikiran itu sendiri eksis/ada. Pikiran sendiri bagi Descrates ialah suatu benda berpikir yang bersifat mental ( res cogitans ) bukan bersifat fisik atau material. Dari prinsip awal bahwa pikiran itu eksis descrates melanjutkan filsafatnya untuk membuktikan bahwa Tuhan dan benda-benda itu ada.
  Berangkat dari pembuktiannya bahwa pikiran itu eksis, filsafatnya membuktikan bahwa Tuhan ada dan kemudian membuktikan bahwa benda material ada. Descrates mendasarkan akan adanya Tuhan pada prinsip bahwa sebab harus lebih besar, sempurna, baik dari akibat. Dalam pikiran Descrates ia memiliki suatu gagasan tentang Tuhan adalah suatu mahluk sempurna yang tak terhingga. Gagasan tersebut tidak mungkin muncul/disebabkan oleh pengalaman dan pikiran diri sendiri, karena kedua hal tersebut merupakan sesuatu yang tidak sempurna dan dapat diragukan sehingga tidak memenuhi prinsip sebab lebih sempurna dari akibat. Gagasan tentang Tuhan yang ada dalam kepala (sebagai akibat) hanya bisa disebabkan oleh sebuah mahluk sempurna yang menaruhnya dalam pikiran saya, yakni Tuhan.
  Setelah membuktikan adanya Tuhan, Descrates membuktikan bahwa benda material itu eksis. Ia menyatakan bahwa Tuhan menciptakan manusia dengan ketidakmampuan untuk membuktikan bahwa benda material itu sejatinya tidak ada. Bahkan Tuhan menciptakan manusia untuk memiliki kecenderungan pemahaman bahwa benda material itu eksis. Apabila pemahaman benda material eksis hanya merupakan sebuah matriks kompleks yang menipu pikiran manusia, itu berarti Tuhan adalah penipu, dan bagi Descrates penipu ialah ketidaksempurnaan. Padahal Tuhan ialah mahluk yang sempurna, oleh karena itu Tuhan tidak mungkin menipu, sehingga benda material itu pastilah ada.

2.Filsafat beraliran Berubah (Antitesis)
  Tokoh-tokoh Filsafat pada aliran ini meliputi :
  a) Herakleitos
     Pemikiran Herakleitos yang paling terkenal adalah mengenai perubahan-perubahan di alam semesta. Menurut Herakleitos, tidak ada satu pun hal di alam semesta yang bersifat tetap atau permanen. Tidak ada sesuatu yang betul-betul ada, semuanya berada di dalam proses menjadi. Ia terkenal dengan ucapannya panta rhei kai uden menei yang berarti, "semuanya mengalir dan tidak ada sesuatupun yang tinggal tetap". Pendapat Heraklietos ini bertentangan dengan Parmenides karena perubahan yang tidak ada henti-hentinya itu dibayangkan Herakleitos dengan dua cara :
     1)Pertama, seluruh kenyataan adalah seperti aliran sungai yang mengalir. "Engkau tidak dapat turun dua kali ke sungai yang sama," demikian kata Herakleitos. Maksudnya di sini, air sungai selalu bergerak sehingga tidak pernah seseorang turun di air sungai yang sama dengan yang sebelumnya.
     2)Kedua, ia menggambarkan seluruh kenyataan dengan api. Maksud api di sini lain dengan konsep mazhab Miletos yang menjadikan air atau udara sebagai prinsip dasar segala sesuatu. Bagi Herakleitos, api bukanlah zat yang dapat menerangkan perubahan-perubahan segala sesuatu, melainkan melambangkan gerak perubahan itu sendiri. Api senantiasa mengubah apa saja yang dibakarnya menjadi abu dan asap, namun api tetaplah api yang sama karena itu, api cocok untuk melambangkan kesatuan dalam perubahan.
     Heraklietos juga penganut Metafisika, yaitu cabang filsafat yang mempelajari penjelasan asal atau hakekat objek (fisik) di dunia. Metafisika adalah studi keberadaan atau realitas. Metafisika mencoba menjawab pertanyaan-pertanyaan seperti: Apakah sumber dari suatu realitas? Apakah Tuhan ada? Apa tempat manusia di dalam semesta? dan lain sebagainya. Cabang utama metafisika adalah Ontologi yaitu ilmu yang mempelajari tentang hakekat benda-benda di alam dan hubungan antara satu dan lainnya. Ahli metafisika juga berupaya memperjelas pemikiran-pemikiran manusia mengenai dunia, termasuk keberadaan, kebendaan, sifat, ruang, waktu, hubungan sebab akibat, dan kemungkinan.

  b) Aristoteles
     Aristoteles juga merupakan Filsuf penganut Ilmu Ontologi (Metafisika). Aristoteles merupakan murid Plato tetapi justru berlawanan arah dengan Plato. Aristoteles memiliki paham Realis yaitu paham bahwa hakekat suatu benda itu bukan terletak pada ide/pikiran melainkan pada obyek nyata benda itu sendiri  (pendapat ini sangat berlawanan dengan Plato). Contoh dari paham Aristoteles : sebelum menjadi sebuah patung kuda kayu, tentu ada tahapan-tahapan yang mendahuluinya, misalnya sebuah pohon menghasilkan sepotong kayu utuh lalu kepala kuda diukir pada kayu itu. Setelah itu, badan kuda juga harus dibuat dan seterusnya sampai pada akhirnya seluruh patung itu berbentuk penuh seekor kuda. Ajaran Aristoteles juga telah mengarah pada pengakuan adanya TUHAN. Menurut Aristoteles, suatu gerakan atau proses perkembangan dalam jagad raya tidak mempunyai awal dan akhir dalam waktu maka alam semesta abadi sifatnya. Namun, karena sesuatu yang bergerak itu digerakkan oleh penggerak yang lain, perlu diterima satu Penggerak Pe     rtama yang tidak digerakkan oleh Penggerak lain, yaitu TUHAN. Selain Metafisika sebagai aliran dari Aristoteles, Aristoteles juga membagi cabang ilmu menjadi 3 bagian, yaitu :
     1)    Ilmu Pengetahuan Praktis (Etika dan Ilmu Politik)
     2)    Ilmu Pengetahuan Produktif menyangkut pengetahuan yang sanggup menghasilkan suatu karya/produk jadi (ilmu teknik, kesenian)
     3)    Ilmu Pengetahuan Teoritis (Fisika, Matematika, dan Metafisika (yang telah disebutkan di atas))
     Namun, di luar ketiga pengetahuan di atas, masih ada Logika (Penalaran Tepat). Ajaran Logika Aristoteles yang sampai sekarang masih digunakan adalah ajaran mengenai Induksi, Deduksi, dan Silogisme. Induksi adalah metode pemikiran yang menghasilkan pengetahuan tentang yang umum dengan bertolak dari hal-hal khusus, sedangkan Deduksi adalah sebaliknya yakni metode pemikiran yang khusus dengan bertitik tolak dari hal umum, Salah satu contoh dari Metode Deduksi adalah Silogisme, yakni pengambilan kesimpulan berdasarkan dua pernyataan yang telah diberitahukan sebelumnya. Misalnya :
     Premis Mayor : Semua manusia akan mati
     Premis Minor : Budi adalah seorang manusia
     Kesimpulan    : Maka Budi akan mati

     Aristoteles dikenal sebagai Bapak Ilmu Pengetahuan karena merupakan Filsuf pertama yang mengajarkan tentang rasionalitas ilmu pengetahuan dan dasar-dasar pemikirannya hingga saat ini masih terus digunakan dalam berbagai cabang ilmu pengetahuan.


  c) David Hume
     Inti ajaran David Hume pada dasarnya sama dengan Aristoteles yaitu menekankan pada Berpikir (ide). Akan tetapi, teori Berpikir ala David Hume berdasarkan pada suatu pengalaman seseorang yang disebut teori Empiricism dengan unsur dasar Synthetic Aposteriori (bisa berpikir kalau sudah melihat). Synthetic Aposteriori berlawanan arah dengan Analytic Apriori atau bisa dikatakan bahwa pendapat David Hume berlawanan dengan Rene Descartes.
     Aliran Empiris adalah aliran yang berpandangan bahwa pengetahuan secara keseluruhan/parsial didasarkan kepada pengalaman yang menggunakan indera. Secara terminologis, Empirisme adalah doktrin bahwa sumber seluruh pengetahuan harus dicari dalam pengalaman, pandangan bahwa semua ide merupakan abstraksi yang dibentuk dengan menggabungkan apa yang dialami, pengalaman indrawi adalah satu-satunya sumber pengetahuan, dan bukan akal. Aliran ini memegang teguh prinsip bahwa pengetahuan manusia dapat diperoleh lewat pengalaman, misalnya : “Mengapa kita takut jika masuk ke dalam kandang Harimau?” karena Harimau adalah binatang buas dan berbahaya (pengalaman menurut seseorang yang pernah diterkam Harimau atau pengalaman seseorang yang pernah bertemu dengan Harimau).
     David Hume juga sebagai penggagas Ruang dan Waktu dalam Filsafat. Gagasan mengenai waktu berasal dari urutan kesan terhadap suatu hal. Misalnya kita melihat buah mangga jatuh dari pohon yang asalnya berada pada dahan, lalu buah itu jatuh di atas tanah. Pada saat itu kita melihat ada urutan kesan waktu mengenai buah mangga (pada mulanya) dan kemudian berada di atas tanah. Pada saat itulah gagasan mengenai waktu terbentuk dalam imajinasi kita. Gagasan mengenai ruang berkaitan dengan luas (ukuran). Ide ruang dihasilkan oleh indra penglihatan dan penyentuh. Ketika kamu melihat mangga jatuh dibawah pohon sana, kesan kamu mengatakan bahwa mangga itu benar-benar ada. Pada saat itulah imajinasi kita menemukan gagasan mengenai ada di sana itulah ruang. Lewat dua pendapat di atas, Hume menentang semua pikiran dan gagasan yang tidak dapat dilacak dengan persepsi indera.


Diantara perjalanan Filsafat Aliran Tetap dan Filsafat Aliran Berubah, lahir beberapa temuan dan paradigma baru dalam bidang ilmu yang tokoh-tokohnya meliputi : Nicolaus Copernicus (pahamnya Heliocentris yaitu : Menetapkan matahari sebagai pusat Tata Surya (bukan bumi)), Galileo Galilei (penemu Hukum Gerak dan Kecepatan), Newton (penemu Hukum Alam dan Titik Didih Air) dan masih banyak lagi lainnya dimana beberapa ilmuwan berikut mematahkan pendapat kuno dari Gereja (Zaman Kegelapan) yang beranggapan tentang mitos-mitos dewa-dewa dan menganggap “Bumi sebagai pusat dari tata surya”.
Dari pertentangan antara paham Rene Descartes dan David Hume yang terlihat dari filsafat aliran tetap dan aliran berubah di atas, Immanuel Kant mencoba untuk mensintesiskan keduanya sehingga membentuk suatu paham Synthetic Apriori yaitu Filsafat Lengkap berdasarkan gabungan antara Synthetic Aposteriori dengan Analytic Apriori. Inti paham Immanuel Kant dikenal dengan Kritisisme atau Filsafat Kritis, suatu nama yang diberikannya sendiri. Kritisisme adalah filsafat yang memulai perjalanannya dengan terlebih dulu menyelidiki kemampuan rasio dan batas-batasnya. Kritisisme terdiri atas 3 bagian, yaitu :
1)Kritik atas Rasio Murni
  Dalam kritik ini, antara lain Kant menjelaskan bahwa ciri pengetahuan adalah bersifat umum, mutlak dan memberi pengertian baru. Untuk itu ia terlebih dulu membedakan adanya tiga macam putusan. Pertama, putusan analitis a priori; di mana predikat tidak menambah sesuatu yang baru pada subjek, karena sudah termuat di dalamnya (misalnya, setiap benda menempati ruang). Kedua, putusan sintesis aposteriori, misalnya pernyataan “meja itu bagus” di sini predikat dihubungkan dengan subjek berdasarkan pengalaman indrawi, karena dinyatakan setelah mempunyai pengalaman dengan aneka ragam meja yang pernah diketahui. Ketiga, putusan sintesis a priori: di sini dipakai sebagai suatu sumber pengetahuan yang kendati bersifat sintetis, namun bersifat a priori juga. Misalnya, putusan yang berbunyi “segala kejadian mempunyai sebabnya”. Putusan ini berlaku umum dan mutlak (jadi a priori), namun putusan ini juga bersifat sintetis dan aposteriori. Sebab di dalam pengertian “kejadian” belum dengan sendirinya tersirat pengertian “seb  ab”. Maka di sini baik akal maupun pengalaman indrawi dibutuhkan serentak. Ilmu pasti, mekanika, dan ilmu pengetahuan alam disusun atas putusan sisntetis yang bersifat a priori ini. Menurut Kant, putusan jenis ketiga inilah syarat dasar bagi apa yang disebut pengetahuan (ilmiah) dipenuhi, yakni bersifat umum dan mutlak serta memberi pengetahuan baru. Persoalannya adalah bagaimana terjadinya pengetahuan yang demikian itu?. Menjawab pertanyaan ini Kant menjelaskan bahwa pengetahuan itu merupakan sintesis dari unsur-unsur yang ada sebelum pengalaman yakni unsur-unsur a priori dengan unsur-unsur yang ada setelah pengalaman yakni unsur-unsur aposteriori. Proses sintesis itu, menurut Kant terjadi dalam tiga tingkatan pengetahuan manusia yaitu pencerahan indrawi (sinneswahrnehmung), lalu tingkat akal budi (verstand), dan tingkat tertinggi adalah tingkat rasio/intelek (Versnunft).

2)Kritik atas Rasio Praktis
  Apabila kritik atas rasio murni memberikan penjelasan tentang syarat-syarat umum dan mutlak bagi  pengetahuan manusia, maka dalam “kritik atas rasio praktis” yang dipersoalkan adalah syarat-syarat umum dan mutlak bagi  perbuatan susila. Kant coba memperlihatkan bahwa syarat-syarat umum yang berupa bentuk (form) perbuatan dalam kesadaran itu tampil dalam perintah (imperatif). Kesadaran demikian ini disebut dengan “otonomi rasio praktis” (yang dilawankan dengan heteronomi). Perintah tersebut dapat tampil dalam kesadaran dengan dua cara, subyektif dan obyektif. Maxime (aturan pokok) adalah pedoman subyektif bagi perbuatan orang perseorang (individu), sedangkan imperatif (perintah) merupakan azas kesadaran obyektif yang mendorong kehendak untuk melakukan perbuatan. Imperatif berlaku umum dan niscaya, meskipun ia dapat berlaku dengan bersyarat (hepotetik) atau dapat juga tanpa syarat (kategorik). Imperatif kategorik tidak mempunyai isi tertentu apapun, ia merupakan kelayakan formal. Menurut Kant, perbuatan susil  a adalah perbuatan yang bersumber pada kewajiban dengan penuh keinsyafan. Keinsyafan terhadap kewajiban merupakan sikap hormat (achtung). Sikap inilah penggerak sesungguhnya perbuatan manusia.
3)Kritik atas Daya Pertimbangan
  Konsekuensi dari “kritik atas rasio murni” dan “kritik atas rasio praktis” menimbulkan adanya dua kawasan tersendiri, yaitu kawasan kaperluan mutlak di bidang alam dan kawasan kebebasan di bidang tingkah laku manusia. Adanya dua kawasan itu, tidak berarti bertentangan atau dalam tingkatan. Kritik atas Daya Pertimbangan (Kritik der Urteilskraft), dimaksukkan oleh Kant, adalah mengerti persesuaian kedua kawasan itu. Hal itu terjadi dengan menggunakan konsep finalitas (tujuan). Finalitas bisa bersifat subjektif dan objektif. Kalau finalitas bersifat subjektif, manusia mengarahkan objek pada diri manusia sendiri. Inilah yang terjadi dalam pengalaman estetis (kesenian). Dengan finalitas yang bersifat objektif dimaksudkan keselarasan satu sama lain dari benda-benda alam.

Filsafat Modern

Tokohnya adalah Augusta Comte dengan aliran Positivisme. Aliran ini sebagai antitesis Filsafat Yunani yaitu mengembangkan keilmuan yang telah ada sebelumnya. Penjelasan Comte tentang filosofi yang positif memperkenalkan hubungan yang penting antara teori, praktik dan pemahaman manusia dunia. Comte merumuskan Hukum Tiga Fase/perkembangan pemikiran manusia secara evolusi ada 3 tahap, yaitu :
1.Tahap Teologis/Tahap Kebudayaan Primitif
  Tahap ini mendefinisikan segala peristiwa alam dan kehidupan manusia ditinjau dari kemauan yang bersifat Ketuhanan
2.Tahap Metafisis
  Yaitu tahap yang menafsirkan segala peristiwa alam dan kehidupan manusia dari konsep-konsep umum yang bersifat spekulatif
3.Tahap Positif (atau sering juga disebut "tahap ilmiah")
  Yaitu tahap yang menafsirkan peristiwa-peristiwa alam dan kehidupan manusia berdasarkan gejala-gejala dan hubungan-hubungan matematis yang dihasilkan oleh ilmu.

Selanjutnya, Comte berpendapat bahwa ilmu dapat diklasifikasikan berdasarkan kerumitannya menjadi 6 ilmu pokok dan berakumulasi atau berakhir pada ilmu yang ketujuh, yaitu ilmu tentang Moral. Adapun 6 ilmu pokok-pokok tersebut meliputi : Matematika, Astronomi, Fisika, Kimia, Biologi, dan Sosiologi. Oleh karena klasifikasi ilmu-ilmu tersebut merupakan klasifikasi hierarkis evolusionis maka hal itu berarti bahwa sosiologi bergantung pada biologi; biologi bergantung pada kimia; kimia bergantung pada fisika; fisika bergantung pada astronomi; dan astronomi bergantung pada matematika. Sosiologi merupakan ilmu yang paling positif.
Comte berpikir bahwa Ilmu Pendidikan harus merupakan bagian integral dari Ilmu Moral yang merupakan suatu perpaduan semua konstruksi ilmiah sehingga merupakan bentuk ilmu yang tertinggi. Dengan demikian, Ilmu Pendidikan bukan ilmu yang otonom seperti ilmu-ilmu dasar (Matematika, Astronomi, Fisika, Kimia, Biologi, dan Sosiologi) tetapi lebih merupakan sosiologi terapan atau sosiologi tentang pendidikan.




Sumber :

Copleston, Frederick. 1960. A History of Philosophy. Vol. VI.  London : Search Press
Mudyahardjo, Drs.Redja. 2002. Filsafat Ilmu Pendidikan (Suatu Pengantar). Bandung : Remaja Rosdakarya www.wikipedia.org