Senin, 26 November 2012

Pengaruh Mitos Terhadap Kehidupan Manusia



Kehidupan setiap manusia diawali dari sebuah kelahiran dan diakhiri dengan kematian. Proses tumbuh kembang seorang manusia dari bayi hingga dewasa melalui berbagai tahapan kejadian. Bagian dari kejadian tersebut adalah mitos. Arti Mitos sebenarnya adalah melakukan sesuatu tetapi kita tidak mengerti alasan mengapa kita melakukannya. Hal ini pastinya dialami oleh setiap orang pada saat ia bayi hingga berusia 2 tahun dan beranjak anak-anak, segala sesuatu yang ia lakukan atas dasar apa yang ia lihat dan ia rasakan. Oleh karena itu, kita sebagai orang dewasa harus mengerti betul bagaimana memahami proses berpikir seorang anak. Proses berpikir seorang anak lazimnya berkembang sesuai dengan tahapan usia pertumbuhan dan perkembangan. Proses tumbuh kembang seorang anak layaknya sebuah perjalanan Filsafat yang berkembang dari awal hingga akhir.

Lantas apa hubungan antara Filsafat dengan Perjalanan Hidup dan Kehidupan Seorang Manusia ?

Filsafat adalah ilmu olah pikir yang mengalir baik secara intensif dan ekstensif. Pikiran yang mengalir tersebut sama mengalirnya dengan awal tumbuhnya sebuah mitos. Mitos muncul pada saat bayi hingga anak-anak, dan semakin beranjak dewasa kemudian berangsur tua, kadar mitos itu semakin mengecil. Hal ini dikarenakan perkembangan pola pikir seorang manusia berpengaruh terhadap tujuan dan alasan atas apa yang ia lakukan. Sebuah Mitos tidak selamanya berarti negatif. Bagi masyarakat daerah-daerah tertentu di Indonesia terutama daerah Jawa dan Jogja, mitos masih sangat berlaku terutama dalam ranah Folklore atau cerita rakyat yang di dalamnya memuat unsur-unsur magis atau mistik. Cerita-cerita mistik lebih menekankan larangan/aturan yang masyarakatnya dilarang untuk melakukan sesuatu dengan alasan yang kadang tidak logis. Namun, tidak semua larangan/aturan yang tidak masuk akal itu selalu bernilai negatif, pasti ada hikmah positif yang terkandung di dalamnya yaitu terciptanya budaya peka rasa, sensitif, rasa saling menghargai dan menghormati. Hal tersebut, sangatlah berbeda dengan orang-orang Yunani yang merupakan Nenek Moyang bangsa Eropa, dimana hidup mereka lebih menekankan unsur Rasio ketimbang Mitos. Itulah sebabnya, mengapa perkembangan pola pikir bangsa Eropa lebih melesat jauh dibandingkan dengan bangsa kita sehingga sumber teknologi pun berasal dari mereka.
      Pengalaman Filsafat tentang Mitos juga terlahir semenjak Gereja-Gereja Ortodok di Eropa berkeyakinan keras bahwa bumi merupakan pusat tata surya (Geosentris). Seiring berjalannya waktu, muncullah Copernicus (Seorang Ahli Sains) yang menyangkal pendapat Gereja bahwa bukan bumi yang merupakan pusat tata surya melainkan matahari (Heliosentris). Hal inilah yang membuat Gereja geram dan berusaha memusnahkan seluruh referensi orang-orang Yunani Kuno yang notabene ahli dalam bidang ilmu Eksak dan Sains.
            Seiring dengan perkembangan jaman di mana Gereja mendapat tamparan keras dari ahli Sains  dan serta merta terjadi kekalahan penganut Gereja dengan umat Islam pada Perang Salib membuat Gereja luluh dan pada akhirnya membebaskan para penganutnya untuk berpikir, berpendapat, dan menciptakan temuan-temuan ilmiah. Hal inilah yang membuat masyarakat Eropa (penganut Gereja) berlomba-lomba untuk melakukan temuan-temuan dalam bidang teknologi, sains, serta hukum.
       Perkembangan temuan-temuan bangsa-bangsa Eropa meluas hingga menciptakan negara-negara Industri yang pada akhirnya menjadi Powernoun/penguasa dunia. Sifat kuasa dari para penguasa melahirkan pola pikir Pragmatis, Hedonis, Utilitarian, Materialisme yang pada akhirnya berujung pada Kapitalisme. Pola pikir Kapitalisme adalah pola pikir yang selalu berusaha mencari keuntungan sebanyak-banyaknya dengan menguasai negara atau bangsa-bangsa lain yang dinilai menghasilkan banyak keuntungan. Oleh karena itu, mengingat budaya pola pikir Kapitalisme yang merajalela dan berpengaruh terhadap generasi selanjutnya maka Filsuf Paul Ernest memetakan dunia pendidikan ke dalam 5 bagian, diantaranya :
             1.    Peta Industrialis dan Technological Pragmatism
    Peta ini mendidik para generasi dengan pola pikir Pragmatis, Hedonis, Utilitarian, Materialisme dan menekankan bahwa pendidikan hanya berpusat pada tuntutan teknologi. Pendidikan ini menghasilkan generasi kaum-kaum kapitalisme.
            2.    Dunia Pendidikan Kaum Konservatif
     Dunia pendidikan ini menginginkan untuk melanjutkan nilai-nilai lama dalam pendidikan.
            3.    Dunia Pendidikan Old Humanis
  Pendidikan yang mengajarkan bahwa segala sesuatu berpusat pada manusia dan tidak mementingkan adanya TUHAN.
            4.    Dunia Pendidikan Progresif
                 Pendidikan yang menekankan pada sifat membangun/Konstruktivisme.
            5.    Dunia Pendidikan Sosio Konstruktivis
     Pendidikan yang menekankan pada sifat membangun/Konstruktivisme serta nilai-nilai sosial.

 Kelima peta dunia menurut Paul Ernest di atas merupakan bukti bahwa perjuangan dan perjalanan hidup seorang manusia pada dasarnya adalah untuk mengerti dan memerangi mitos dimana mitos tidak menunjukkan pola berpikir yang progresif, intensif, dan ekstensif. Pola berpikir yang TIDAK progresif, intensif, dan  ekstensif merupakan pantangan dalam belajar Filsafat.

2 komentar:

Ninda Argafani mengatakan...

inspiratif put, coba bahasanya sedikit di olah lagi. aku rada ngelu soale nek terlalu serius :D hehe

Ninda Argafani mengatakan...

Put, Foll back yaww :-)