Runtyani
Irjayanti Putri
PMAT
C PPS UNY
12709251015
Akuntabel berasal dari
istilah bahasa inggris Accountable yang terdiri atas suku kata “Account” yang berarti menghitung dan “Able” yang berarti mampu. Jadi, arti kata Akuntabel disini bukan
berarti mampu menghitung atau pintar menghitung, melainkan dapat dipercaya atau
dapat dipertanggungjawabkan. Seseorang yang akuntabel adalah seseorang yang
dapat dipercaya baik dari segi ucapannya maupun perbuatannya.
Jika kita berbicara
Akuntabel dalam Filsafat Pendidikan Matematika maka Akuntabel dalam hal ini
adalah tuntutan bagi seorang guru agar menjadi guru yang dapat dipercaya. Dapat
dipercaya artinya bahwa karya-karya guru tersebut diakui dan dipercaya oleh
pihak murid, guru lain, kepala sekolah, dan para ahli pendidikan lainnya yang
terkait dengan assessment. Seorang
guru yang dapat dipercaya tidak hanya dilihat dari segi logika maupun
rasionalitasnya melainkan dengan memberikan contoh/teladan yang baik bagi anak
didiknya. Dalam filsafat, akuntabel juga bisa diartikan sebagai isi karena isi
ilmu yang diamanahkan kepada guru tersebut bisa diaplikasikan dalam hal
pembuatan hasil karya ilmiah berupa media pendidikan, alat peraga, pengembangan
instrumen pendidikan yang inovatif serta jurnal ilmiah pendidikan yang
memberikan sumbangsih terhadap dunia pendidikan.
Tuntutan terhadap guru
matematika tidak hanya Akuntabilitas saja melainkan juga Substansibilitas. Substansibilitas
artinya kemampuan guru dalam memiliki isi/muatan/content yang berguna untuk
dibagikan isinya kepada orang lain. Substansibilitas juga berarti kemampuan
guru sebagai wadah bagi murid-muridnya dan memiliki ilmu yang akan dibagikan ke
murid-muridnya. Guru yang substansif
adalah guru yang tidak hanya memikirkan kewajiban untuk memberikan ilmu saja
kepada murid-murid melainkan juga mampu menyeimbangkan antara Intuisi dan
Rasionalitas pada siswa.
Mengapa Intuisi dan
Rasionalitas penting bagi siswa dalam belajar matematika ?
Intuisi dan
Rasionalitas merupakan 2 hal yang tidak boleh dipisahkan dalam teori belajar
matematika. Immanuel Kant dalam bukunya “The
Critique of Pure Reason” menyatakan bahwa “Pikiran manusia itu akan selalu menimbulkan banyak pertanyaan dan kita
tidak bisa menolak pertanyaan-pertanyaan tersebut karena pertanyaan tersebut
sudah sesuai dengan kodratnya. Akan tetapi,
sebagian dari pikiran manusia itu banyak yang tidak bisa menjawab pertanyaan.
Hal ini dikarenakan setiap aspek dari pikiran manusia itu akan menimbulkan
kemampuan berpikir”
Sepenggal pernyataan di
atas yang berbunyi “Akan tetapi, sebagian
dari pikiran manusia itu banyak yang tidak bisa menjawab pertanyaan”
artinya bahwa jawaban atas pertanyaan manusia itu tidak selalu berdasar atas
nalar/logika melainkan lewat intuisi/insting/naluri manusia.
Peran intuisi
dalam matematika yaitu memberikan gambaran yang jelas tentang landasan,
struktur dan kebenaran matematika. Intuisi yang dibangun dalam matematika
adalah intuisi murni yang berdasarkan atas konsep ruang dan waktu. Mengkolaborasikan
antara konsep ruang dan waktu mengajarkan bahwa belajar matematika itu harus
menyesuaikan konteks ruang dan waktu siswa yang berlandaskan pada pengalaman
hidup siswa serta bersifat Sintesis Ilmu.
Contoh Intuisi Waktu :
Jika kita
memikirkan penjumlahan 4 + 5 = 9. Secara
intuisi, 4 dan 5 adalah konsep-konsep yang berbeda dan 9 adalah konsep yang
lain pula. Jadi 4 + 5 telah menghasilkan konsep yang baru yaitu 9 dan hal
demikian tentunya bersifat sintetik.
Jika di simak
dari struktur kalimat, pernyataan “4 + 5 = 9” mempunyai “4 + 5” sebagai subyek
dan “9” sebagai predikat. Konsep yang terkandung di dalam predikat yaitu konsep
9, tidak terkandung di dalam konsep “4+5”, yaitu bahwa subyek tidak memuat predikat.
Hal demikianlah yang menurut Kant sebagai prinsip sintetik dalam aritmetika.
Dengan demikian, menurut Kant, di dalam matematika kita tidak cukup hanya
mendefinisikan suatu konsep, karena mendefinisikan hanyalah bersifat analitik.
Oleh karena itu kita harus mensistesiskannya/mengkolaborasikan antar keduanya
dalam sintesis.
Menurut Kant,
konsep bilangan di dalam aritmetika diperoleh dalam intuisi waktu. Di dalam
penjumlahan 4 + 5, representasi 4 tentunya mendahului representasi 5, dan
representasi 4+5 mendahului representasi 9. Untuk membuktikan bahwa 4 + 5 = 9,
menurut Kant, kita harus memperhatikan kejadiannya. Saat ini, diberikan 4, saat
kemudian diberikan 5 dan saat berikutnya lagi dibuktikan hasilnya 9. Dengan
demikian dalam konstruksi konsep aritmetika ditemukan urutan langkah dalam
intuisi waktu.
Contoh Intuisi Ruang :
Begitu pula
Intuisi Ruang disesuaikan dengan empiris/pengalaman hidup siswa, misal : konsep
“4 itik” ditambah dengan konsep “5 ayam” tidak harus sama dengan “9 hewan”
tetapi bisa saja menjadi “4 itik dan 5 ayam”. Hal ini menandakan bahwa secara
konteks keruangan, “4 + 5” tidak harus memiliki hasil “9”. Hasil yang
didapatkan tersebut bersifat relatif.
Dari sedikit
contoh di atas, menggambarkan bahwa Substansibilitas seorang guru akan
mempengaruhi kinerja Akuntabilitasnya. Dengan memperhatikan konsep Rasionalitas
dan Empiris yang terdapat dalam intuisi ruang dan waktu maka guru akan lebih
mudah untuk menerapkan metode pembelajaran yang menarik dan kontekstual bagi
siswa. Dengan metode pembelajaran yang kontekstual dan menekankan pada
keaktivan siswa maka guru bisa mengambil data dengan melakukan penilaian
kinerja keaktifan siswa tersebut kemudian memaparkan hasil kerja siswa dan
dikembangkan sebagai Hasil Karya Guru yang benar-benar Akuntabel. Semoga kita
mengaplikasikannya....
Selamat Berjuang
Para Guru Matematika !!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar