Minggu, 16 September 2012

REFLEKSI PERKULIAHAN FILSAFAT ILMU



Runtyani Irjayanti Putri
S-2 PMAT C 2012
NIM.12709251015


REFLEKSI KULIAH FILSAFAT ILMU PERTEMUAN PERTAMA
 
Filsafat ilmu adalah suatu ilmu yang mempelajari tentang olah pikir yang reflektif. Reflektif di sini artinya adalah kesadaran diri dan akal sehingga kita merefleksikan kesadaran diri kita sendiri dan akal kita. Jadi, Filsafat adalah Refleksi. Filsafat Ilmu dari pertama lahir hingga jaman sekarang ini adalah sebuah Introduction (perkenalan), perkenalan akan hakikat hidup (life). Oleh karena itu Filsafat Ilmu itu adalah Filsafat yang hidup dan berkehidupan. Semua orang mampu berfilsafat, semua orang adalah filsuf bagi dirinya sendiri dan orang lain.
Manusia pada dasarnya memiliki 3 unsur pembangun, yaitu : akal (logika), hati (jiwa yang independen dan bersifat spiritual) serta perasaan. Manusia hidup di dunia tidak hanya berupaya untuk memahami segala sesuatu secara sistematis, radikal, dan kritis. Akan tetapi, manusia juga perlu mengedepankan Hati. Hati manusia bersifat spiritual, karena di dalam hati kecil manusia (di lubuk hati manusia) terdapat Suara Tuhan. Oleh karena itu, dalam Filsafat Ilmu, TUHAN sering disebut dengan HATI karena Suara Hati Manusia adalah Suara TUHAN. Kepercayaan akan adanya TUHAN bersifat Irrasional sehingga setinggi-tingginya pikiran (logika) manusia, tak akan mampu untuk memecahkan misteri TUHAN.
Alat berkomunikasi dalam dunia Filsafat Ilmu adalah Bahasa Analog. Bahasa Analog adalah bahasa perbandingan, artinya bahwa istilah-istilah tertentu dalam filsafat ilmu sering di analog-kan dengan istilah lain, seperti : cinta itu hati (cinta itu ada di hati) sehingga aku mencintai seseorang dengan menggunakan hatiku (bukan dengan menggunakan pikiranku). Jika kita mencintai seseorang dengan menggunakan pikiran maka akan sulit pastinya kita merumuskan suatu kesimpulan bahwa “Kita sesungguhnya mencintai seseorang itu atau tidak”. Begitu juga cinta terhadap TUHAN, kita mencintai dan memahami TUHAN dengan hati kita (bukan dengan pikiran kita), jadi di saat pikiran kita buntu (sudah tak bisa berpikir lagi) maka solusi yang terbaik adalah berdoa kepada TUHAN. Jadi, dari contoh di atas, kita bisa menyimpulkan bahwa “CINTA” = “HATI” = “TUHAN”. Setinggi-tingginya pikiran kita tak  akan bisa mengungkap Misteri Cinta dan Misteri TUHAN.

 Fondasi seseorang belajar Filsafat ada 4 fondasi, yaitu :
1.    Basic Foundation
Fondasi dasar dari Filsafat adalah TUHAN (Spritual yang tertinggi)
2.    Pshycological Foundation
Fondasi psikologi pada intinya adalah meluruhkan segala ego kita, meluruhkan segala kesombongan kita atas penguasaan suatu ilmu karena penguasa ilmu tertinggi di dunia ini hanyalah TUHAN. Setinggi-tingginya pikiran manusia dalam urusan dunia, kebenarannya masih relatif tetapi jika kebenaran itu sudah menyentuh langit maka kebenarannya bersifat absolut (kuasa TUHAN).
3.    Life Foundation
Fondasi hidup/Fondasi Alamiah adalah Ilmu dasar yang diberikan TUHAN semenjak manusia lahir adalah dasar dalam berfilsafat.
4.    Experience Foundation
Fondasi pengalaman adalah fondasi yang dibangun atas dasar pengalaman hidup seseorang artinya seorang manusia bisa membedakan hal yang baik atau buruk, berbahaya atau tidak berbahaya, boleh dilakukan atau tidak boleh dilakukan itu berdasarkan pengalaman hidup seseorang itu sendiri.

Dimensi filsafat ilmu ada 4, yaitu :
1.    Dimensi Pikiran (Akal,Logika)
Artinya bahwa berfilsafat itu menggunakan pikiran. Kita berpikir/melakukan olah pikir untuk mendapatkan suatu kepastian dalam ilmu pengetahuan.
2.    Dimensi Ucapan
Artinya setiap orang berhak untuk mengucapkan apa yang ada di pikirannya masing-masing. Namun, segala hal/ilmu yang ada di pikiran tidak bisa dikeluarkan secara bersama-sama melalui ucapan, pemikiran-pemikiran tersebut harus diucapkan secara runtut (hierarki).
3.    Dimensi Tulisan
Artinya Filsafat bisa dituangkan dalam berbagai macam tulisan. “Aku tak mampu menulis seperti apa yang aku kehendaki, sebanyak-banyaknya tulisan yang aku tulis tak bisa menulis apa yang aku pkirkan atau aku katakan”.
4.    Dimensi Tindakan
Setelah dipikirkan, diucapkan, dan ditulis maka filsafat harus diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Namun, tidak semua hal yang ada dipikiran itu harus dilakukan, karena keterbatasan manusia itu sendiri, ada kelemahan dalam diri manusia, sehebat-hebatnya manusia tidak bisa melakukan 2 tindakan sekaligus dalam waktu yang bersamaan.


Pertanyaan :
1.   Bagaimana cara yang mudah dan aplikatif yang harus dilakukan oleh Guru Matematika dalam memberikan pemahaman kepada siswa SMK tentang filsafat ilmu pendidikan matematika (selain Filsafat Ketuhanan) sebagai bekal ilmu siswa kelak setelah lulus dari SMK ???
2.  Jika terjadi pemberontakan antara Hati dan Pikiran, apakah Hati yang harus saya dahulukan? Padahal Pikiran juga ingin didahulukan, terkadang sulit membedakan Kata Hati yang murni Suara TUHAN dan Kata Hati dari “Suara Yang Lain”.

Tidak ada komentar: