Runtyani
Irjayanti Putri
S-2
PMAT C 2012
NIM.12709251015
REFLEKSI
KULIAH FILSAFAT ILMU PERTEMUAN PERTAMA
Filsafat
ilmu adalah suatu ilmu yang mempelajari tentang olah pikir yang reflektif.
Reflektif di sini artinya adalah kesadaran diri dan akal sehingga kita
merefleksikan kesadaran diri kita sendiri dan akal kita. Jadi, Filsafat adalah
Refleksi. Filsafat Ilmu dari pertama lahir hingga jaman sekarang ini adalah
sebuah Introduction (perkenalan),
perkenalan akan hakikat hidup (life). Oleh karena itu Filsafat Ilmu itu adalah
Filsafat yang hidup dan berkehidupan. Semua orang mampu berfilsafat, semua
orang adalah filsuf bagi dirinya sendiri dan orang lain.
Manusia
pada dasarnya memiliki 3 unsur pembangun, yaitu : akal (logika), hati (jiwa yang
independen dan bersifat spiritual) serta perasaan. Manusia hidup di dunia tidak
hanya berupaya untuk memahami segala sesuatu secara sistematis, radikal, dan
kritis. Akan tetapi, manusia juga perlu mengedepankan Hati. Hati manusia
bersifat spiritual, karena di dalam hati kecil manusia (di lubuk hati manusia)
terdapat Suara Tuhan. Oleh karena itu, dalam Filsafat Ilmu, TUHAN sering
disebut dengan HATI karena Suara Hati Manusia adalah Suara TUHAN. Kepercayaan
akan adanya TUHAN bersifat Irrasional sehingga setinggi-tingginya pikiran
(logika) manusia, tak akan mampu untuk memecahkan misteri TUHAN.
Alat
berkomunikasi dalam dunia Filsafat Ilmu adalah Bahasa Analog. Bahasa Analog
adalah bahasa perbandingan, artinya bahwa istilah-istilah tertentu dalam
filsafat ilmu sering di analog-kan dengan istilah lain, seperti : cinta itu
hati (cinta itu ada di hati) sehingga aku mencintai seseorang dengan
menggunakan hatiku (bukan dengan menggunakan pikiranku). Jika kita mencintai
seseorang dengan menggunakan pikiran maka akan sulit pastinya kita merumuskan
suatu kesimpulan bahwa “Kita sesungguhnya mencintai seseorang itu atau tidak”.
Begitu juga cinta terhadap TUHAN, kita mencintai dan memahami TUHAN dengan hati
kita (bukan dengan pikiran kita), jadi di saat pikiran kita buntu (sudah tak
bisa berpikir lagi) maka solusi yang terbaik adalah berdoa kepada TUHAN. Jadi,
dari contoh di atas, kita bisa menyimpulkan bahwa “CINTA” = “HATI” = “TUHAN”. Setinggi-tingginya
pikiran kita tak akan bisa mengungkap
Misteri Cinta dan Misteri TUHAN.
Fondasi seseorang
belajar Filsafat ada 4 fondasi, yaitu :
1. Basic
Foundation
Fondasi dasar dari Filsafat adalah TUHAN
(Spritual yang tertinggi)
2. Pshycological
Foundation
Fondasi psikologi pada intinya adalah
meluruhkan segala ego kita, meluruhkan segala kesombongan kita atas penguasaan
suatu ilmu karena penguasa ilmu tertinggi di dunia ini hanyalah TUHAN.
Setinggi-tingginya pikiran manusia dalam urusan dunia, kebenarannya masih
relatif tetapi jika kebenaran itu sudah menyentuh langit maka kebenarannya
bersifat absolut (kuasa TUHAN).
3. Life
Foundation
Fondasi hidup/Fondasi Alamiah adalah
Ilmu dasar yang diberikan TUHAN semenjak manusia lahir adalah dasar dalam
berfilsafat.
4. Experience
Foundation
Fondasi pengalaman adalah fondasi yang dibangun atas
dasar pengalaman hidup seseorang artinya seorang manusia bisa membedakan hal
yang baik atau buruk, berbahaya atau tidak berbahaya, boleh dilakukan atau
tidak boleh dilakukan itu berdasarkan pengalaman hidup seseorang itu sendiri.
Dimensi filsafat ilmu
ada 4, yaitu :
1. Dimensi
Pikiran (Akal,Logika)
Artinya bahwa berfilsafat itu
menggunakan pikiran. Kita berpikir/melakukan olah pikir untuk mendapatkan suatu
kepastian dalam ilmu pengetahuan.
2. Dimensi
Ucapan
Artinya setiap orang berhak untuk
mengucapkan apa yang ada di pikirannya masing-masing. Namun, segala hal/ilmu
yang ada di pikiran tidak bisa dikeluarkan secara bersama-sama melalui ucapan,
pemikiran-pemikiran tersebut harus diucapkan secara runtut (hierarki).
3. Dimensi
Tulisan
Artinya Filsafat bisa dituangkan dalam
berbagai macam tulisan. “Aku tak mampu menulis seperti apa yang aku kehendaki,
sebanyak-banyaknya tulisan yang aku tulis tak bisa menulis apa yang aku pkirkan
atau aku katakan”.
4. Dimensi
Tindakan
Setelah dipikirkan, diucapkan, dan
ditulis maka filsafat harus diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Namun, tidak
semua hal yang ada dipikiran itu harus dilakukan, karena keterbatasan manusia
itu sendiri, ada kelemahan dalam diri manusia, sehebat-hebatnya manusia tidak
bisa melakukan 2 tindakan sekaligus dalam waktu yang bersamaan.
Pertanyaan :
1. Bagaimana
cara yang mudah dan aplikatif yang harus dilakukan oleh Guru Matematika dalam
memberikan pemahaman kepada siswa SMK tentang filsafat ilmu pendidikan
matematika (selain Filsafat Ketuhanan) sebagai bekal ilmu siswa kelak setelah
lulus dari SMK ???
2. Jika
terjadi pemberontakan antara Hati dan Pikiran, apakah Hati yang harus saya
dahulukan? Padahal Pikiran juga ingin didahulukan, terkadang sulit membedakan
Kata Hati yang murni Suara TUHAN dan Kata Hati dari “Suara Yang Lain”.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar