Menerjemahkan
Hidup dan Kehidupan
Filsafat
pada dasarnya adalah substansi dalam hidup dan kehidupan manusia di bumi.
Manusia menjalani hidup berdasarkan suatu prinsip-prinsip yang berlaku dari
sisi spiritual, normatif, serta formal secara komprehensif dan harmoni untuk
mendapatkan suatu keteraturan dalam hidup. Filsafat juga mengajarkan bagaimana
cara berpikir yang sehat, hidup yang sehat, pengakuan adanya TUHAN, dan cara
bersyukur kepada TUHAN. Kesadaran saya tentang pentingnya Filsafat dalam hidup
terbangun setelah saya merefleksikan apa yang diterangkan oleh Dr. Marsigit pada
perkuliahan pertemuan kedua ini. Saya kemudian berpikir dan menyimpulkan bahwa Filsafat
merupakan induk dari segala macam ilmu yang mempelajari tentang apa yang ada di
bumi dan yang mungkin ada. Filsafat bukan hanya sekedar kata ataupun kalimat
yang sering kita ucapkan sehari-hari melainkan juga meliputi kegiatan membaca,
berpikir, melakukan sesuatu, berinteraksi dengan orang lain melalui esensi dari
Filsafat tersebut. Filsafat itu lebih menekankan pada unsur-unsurnya,
sifat-sifatnya baik sifat berikat maupun sifat berpola yang menuju kepada satu
tujuan, yaitu kehidupan yang lebih baik.
Seseorang
dikatakan berhasil mengembangkan metode hidup (Hermeneutika) apabila seseorang tersebut
telah berusaha menggapai keseimbangan hidup dengan cara menerjemahkan dan
diterjemahkan oleh unsur-unsur yang ada. Salah satu bagian dari keseimbangan
hidup adalah mensyukuri segala nikmat TUHAN. Konteks syukur kepada TUHAN itu
bisa diaplikasikan dalam bentuk keikhlasan, yaitu keikhlasan dalam menjalani
kewajiban kita entah sebagai guru, anak kepada orang tua, dan kewajiban kita
kepada TUHAN. Mencintai TUHAN itu sama artinya menjalankan kewajiban kita
terhadap TUHAN dengan cara beribadah baik secara Mahdah maupun Ghairumahdah.
Kesuksesan
dalam hidup seseorang ditentukan oleh 2 faktor, yaitu : Faktor Ikhtiar (Usaha)
dan Faktor Takdir (Nasib). Kedua faktor tersebut saling berkaitan erat dan
tidak boleh terpisah dalam pelaksanaannya. Orang yang sukses adalah orang yang
mau berikhtiar/berusaha dengan sungguh-sungguh dan hasilnya dipasrahkan kepada
TUHAN (berdoa). Itulah arti hidup sebenarnya dalam keseimbangan karena pada
dasarnya kita sebagai manusia berada pada jarak antara Takdir dan Ikhtiar. Jika
kita hanya mengandalkan nasib/takdir TUHAN sepenuhnya tanpa mau berusaha
sedikitpun maka kita disebut sebagai Kaum Fatal, begitu juga sebaliknya, jika
kita hanya terjebak pada ikhtiar saja dengan berusaha secara bersungguh-sungguh
tanpa mau berpasrah dan berdoa kepada TUHAN maka kita disebut sebagai Kaum
Matrealisme. Kaum Matrealisme hanya mengejar materi saja tanpa memperhatikan
bahwa ada kekuasaan tertinggi yang bisa membolak-balikkan hasil secara sekejap,
yaitu TUHAN. Di samping Kaum Matrealisme ada pula Kaum Vital dimana kaum ini tidak
percaya akan adanya TUHAN, kaum tersebut merasa bisa menguasai apa yang ada di
bumi ini dengan ilmu pengetahuan yang dimilikinya, tapi kelemahan dari kaum ini
adalah sampai sekarang mereka tak bisa menjelaskan tentang apa yang dimaksud
dengan Arwah/Roh/Nyawa/Orang yang sedang Sakaratul Maut.
TUHAN
memiliki segalanya baik yang di bumi maupun di langit sehingga TUHAN MAHA
KUASA. Definisi dari kata “memiliki” artinya adalah berkuasa atau menjatuhkan
sifat kepada yang di beri kuasa. Hidup manusia dikuasai oleh TUHAN dan manusia
bisa berkuasa pada hidupnya sendiri sepanjang itu ikhtiar, sehingga bisa
disimpulkan bahwa Hidup = Kuasa = Filsafat. Godaan bagi orang yang berkuasa
adalah menggunakan kekuasaannya, seperti Guru yang memberikan kekuasaanya
kepada murid ataupun guru melabelkan sifat kepada siswa bahwa siswa tersebut
malas, padahal siswa tersebut tidak selamanya malas. Jadi, jangan memberi
kekuasaan kepada siswa secara semena-mena karena hal tersebut sesungguhnya
adalah berdosa.
Runtyani. I.P
12709251015/PMAT C/PPS UNY
Tidak ada komentar:
Posting Komentar