Rabu, 27 Mei 2009

REFLEKSI FILSAFAT PENDIDIKAN MATEMATIKA

Filsafat, Sebuah Pemikiran Yang Panjang

Sejak duduk di bangku SMA hingga tahun kedua kuliah, terus terang belum pernah terpikirkan olehku apa itu filsafat, pernah mendengar beberapa kali istilah "filsafat" diucapkan oleh teman SMA dan tetangga saya tetapi terus terang tidak ada keinginan untuk mempelajarinya. Pada saat itu, teman SMA saya mengatakan bahwa Filsafat itu membingungkan, berputar-putar, membuat orang sesat, melahirkan banyak dukun, dan kadang tidak mempercayai TUHAN. Namun, pertanyaan besar masih menggantung di benak saya kala itu, apakah memang benar seperti itu ???? jikalau mengajarkan kesesatan kenapa filsafat masuk dalam kurikulum perkuliahan bahkan tak segan-segan menjadi jurusan di perguruan tinggi ???. Dalam keraguan itu, bukannya saya bertanya tentang filsafat sesungguhnya kepada orang yang ahli tetapi malah membiarkan keraguan tersebut mengalir dan mengantarkan saya untuk mengikuti perkuliahan ini (Filsafat Pendidikan Matematika).
Pada awal kuliah Filsafat Pendidikan Matematika, terus terang saya masih "kabur" tentang tujuan pembelajarannya seperti apa dan manfaat apa yang dapat saya ambil setelah perkuliahan ini selesai terutama bekal apa yang akan saya ajarkan kepada calon anak didik saya kelak. Terlebih lagi, sebelum dosen memberikan silabus, referensi wajib yang menjadi acuan belajar filsafat juga belum dipastikan.
2 Minggu perkuliahan berjalan, silabus telah diberikan dan silabus tersebut memuat 77 referensi yang bersifat internasional dengan pengantar bahasa Inggris, yang menjadi kendala bagi mahasiswa adalah kurangnya waktu untuk mencari semua referensi-referensi yang ada di silabus karena dosen telah memberi cukup banyak materi dalam bentuk elegi setiap harinya (total elegi ada 76 hingga akhir perkuliahan) yang dipostingkan di blog dosen serta wajib untuk dipelajari dan dikomentari oleh mahasiswa sebagai umpan balik pembelajaran. Elegi-elegi yang diberikan dosen sebenarnya merupakan perwujudan dari pemikiran sang dosen berdasarkan pengalamannya dalam mempelajari filsafat dengan berpegang pada cabang filsafat yaitu epistemologi dimana elegi-elegi itu dibuat sebagai alat/metode/cara agar kita mampu berpikir filsafat.
Untuk mempelajari setiap elegi dibutuhkan analisa pemikiran yang sangat dalam, karena untuk memahami isi tidak cukup dengan membaca sekali tetapi dibutuhkan waktu 2-3 kali membaca untuk bisa menangkap maksudnya, terkadang membaca berulang kalipun jika tidak dibutuhkan kepekaan hati untuk mencerna lebih dalam juga tidak akan mengerti apa maksud sesungguhnya dari elegi itu.
Pada awalnya, elegi-elegi ini memang terkesan aneh dan berbelit-belit, tetapi setelah mengcopy, membuat print out kemudian membacanya secara keseluruhan, ternyata saya mengerti bahwa elegi-elegi ini sebenarnya memuat filsafat umum, filsafat agama, filsafat matematika, sejarah filsafat, filsafat kemanusiaan, memperbincangkan hal-hal yang ada di sekitar kita dan hal-hal yang mungkin ada, memperbincangkan keberadaan suatu obyek yang kadang tidak kita sadari berada dalam kekuasaan kita, dan masih banyak lagi yang lainnya. Hal ini membuat saya kagum dengan Dr. Marsigit karena kepiawaian Beliau dalam mengolah materi filsafat kemudian membungkusnya dengan bahasa analog sehingga lahirlah elegi-elegi yang bisa dijadikan sebagai bahan renungan oleh siapapun yang membacanya. Di akhir perkuliahan, saya juga menyadari bahwa metode pembelajaran mandiri dengan media blog seperti elegi ini begitu menyenangkan karena kita dibebaskan untuk berinteraksi dengan dosen dan mencurahkan segala pengetahuan yang kita miliki dengan menghubungkan hal-hal yang ada di sekitar kita dengan landasan filsafat. Disamping itu, kita tidak melulu terkungkung dalam pembelajaran klasikal yang membosankan.
Sekarang, saya mengakui bahwa filsafat adalah ilmu yang sangat mengagumkan, karena berawal dari elegi-elegi, buku filsafat umum yang pernah saya baca serta renungan dari penjelasan-penjelasan yang diberikan Dr. Marsigit selama perkuliahan membuat saya mengerti tentang arti kehidupan dan tujuan hidup sebenarnya. Filsafat membuat saya tertantang dan termotivasi untuk belajar segala hal termasuk belajar mata kuliah lain yang banyak sekali kesulitan-kesulitan untuk mempelajarinya. Manfaat dari belajar filsafat adalah kita terbiasa untuk berpikir radix atau mendalam sehingga jika suatu saat kita menghadapi suatu permasalahan yang rumit, kita bisa dengan mudah untuk mengatasinya.
Semakin luas dan semakin bertambahnya ilmu pengetahuan yang kita miliki maka akan terasa pulalah kebutuhan akan suatu pandangan mengenai keseluruhan, semua bagian, dan sintesis yang menyatukan bagian-bagian tersebut menjadi satu keutuhan. Hal itulah yang ada dalam filsafat, karena filsafat mempelajari keseluruhan yang ada di muka bumi ini, mempelajari yang ada dan yang mungkin ada. Lebih dari itu, filsafat adalah ilmu pengetahuan yang hanya dapat dikuasai dengan menjalankan atau mengamalkan ilmu itu sendiri. Alangkah baiknya jika kita mempelajari filsafat tidak sebatas dalam perkuliahan Filsafat Pendidikan Matematika semata tetapi akan terus berlanjut selama nafas masih berhembus. Pertanyaan-pertanyaan dalam kehidupan akan terus ada dan dengan filsafatlah kita akan terus bertanya apa arti semua ini karena filsafat adalah pemikiran yang panjang.

1 komentar:

ciwir mengatakan...

salam kenal