Selasa, 22 Januari 2013

Refleksi



Runtyani Irjayanti Putri
PMAT C PPS UNY
12709251015

Refleksi Perkuliahan Akhir Filsafat (Ujian Akhir Semester Gasal)
Tanggal 3 Januari 2013


LANDASAN EPISTEMOLOGI MATEMATIKA SEBAGAI EMBRIO PEMBELAJARAN REALISTIK

Filsafat ilmu mempelajari 3 aspek kajian, yaitu : Ontologi (hakikat), Epistemologi (metode), dan Aksiologi (manfaat/kegunaan). Salah satu aspek kajian tersebut adalah Epistemologi. Epistemologi filsafat adalah aspek yang membahas tentang metode pengetahuan filsafat. Aspek ini membahas bagaimana cara kita mencari pengetahuan dan seperti apa pengetahuan tersebut. Sama halnya dengan filsafat matematika, landasan epistemologi filsafat matematika membahas tentang hasil karya pemikiran para filsuf-filsuf yang berkaitan dengan teori, struktur, dan obyek matematika. Dengan kombinasi hasil pemikiran dan pendapat para filsuf tersebut melahirkan suatu metode pembelajaran realistik dan kontekstual yang menggabungkan antara paham rasionalitas dan empirisme. Paham rasionalitas adalah suatu paham yang menekankan akal sebagai sumber dari segala ilmu pengetahuan, sedangkan empirisme adalah paham yang menekankan pengalaman hidup serta pengamatan manusia sebagai sumber ilmu pengetahuan.
Filsuf-filsuf yang berperan dalam Landasan Epistemologi Matematika adalah Plato, Rene Des Cartes dan Immanuel Kant. Pemikiran Plato menekankan bahwa rasionalitas adalah kunci utama sedangkan Immanuel Kant dan Rene Des Cartes menekankan bahwa pengalaman hidup manusia dengan interaksi alam sekitar menghasilkan ilmu pengetahuan. Meskipun ketiga filsuf tersebut mempunyai pandangan yang berbeda terhadap matematika tetapi kombinasi dari buah karya ketiga filsuf tersebut melahirkan suatu pemikiran bahwa matematika terlahir atas dasar rasionalitas/ide dan pengalaman.
Dalam pembelajaran matematika, pemikiran Plato, Rene Des Cartes, dan Immanuel Kant bermanfaat dalam pengembangan beberapa metode pembelajaran seperti CTL (Contextual Teaching and Learning) dan RME (Realistic Mathematics Education). Kedua metode pembelajaran tersebut menekankan bahwa pengenalan konsep matematis siswa tidak hanya diperoleh dari definisi, rumus, atau aksioma saja yang bersifat konsisten tetapi juga konsep matematis tersebut bisa diadaptasi dari permasalahan dan situasi yang terjadi di dunia nyata sehari-hari. Inti pembelajaran realistik (RME) dan pembelajaran kontekstual (CTL) adalah konsep matematis siswa bisa didapat dari obyek-obyek di lingkungan sekitar maupun dari permasalahan hidup manusia sehari-hari. Begitu pula sebaliknya bahwa konsep matematis murni juga bisa diaplikasikan dalam situasi dalam dunia nyata. Dalam pembelajaran kontekstual dan realistik, siswa dilatih untuk mampu menyelesaikan segala permasalahan hidup dengan mengaplikasikan konsep matematika yang diperoleh, bahkan untuk mendapatkan konsep matematis yang baru sekalipun, siswa dapat menggunakan konsep lama yang telah dipelajari dan dihubungkan dengan situasi kontekstual sehingga terbentuk konsep baru.
Kemampuan pemahaman konsep matematis merupakan tolak ukur/landasan belajar matematika. Dengan kemampuan pemahaman konsep matematis yang kuat maka akan berpengaruh terhadap kemampuan matematis siswa lain seperti kemampuan pemecahan masalah (Problem Solving), kemampuan koneksi matematis, kemampuan representasi matematis, kemampuan komunikasi matematis, dan kemampuan investigasi matematis. Jika seluruh kemampuan tersebut sudah dikuasai oleh siswa maka pelajaran matematika terasa menyenangkan dan menarik bagi siswa. Akibatnya hasil belajar matematika siswa akan meningkat.



Tidak ada komentar: