Runtyani Irjayanti Putri
PMAT C PPS UNY
12709251015
Refleksi Perkuliahan Akhir Filsafat
(Ujian Akhir Semester Gasal)
Tanggal 3 Januari 2013
LANDASAN
EPISTEMOLOGI MATEMATIKA SEBAGAI EMBRIO PEMBELAJARAN REALISTIK
Filsafat ilmu
mempelajari 3 aspek kajian, yaitu : Ontologi (hakikat), Epistemologi (metode),
dan Aksiologi (manfaat/kegunaan). Salah satu aspek kajian tersebut adalah
Epistemologi. Epistemologi filsafat adalah aspek yang membahas tentang metode
pengetahuan filsafat. Aspek ini membahas bagaimana cara kita mencari
pengetahuan dan seperti apa pengetahuan tersebut. Sama halnya dengan filsafat
matematika, landasan epistemologi filsafat matematika membahas tentang hasil
karya pemikiran para filsuf-filsuf yang berkaitan dengan teori, struktur, dan
obyek matematika. Dengan kombinasi hasil pemikiran dan pendapat para filsuf
tersebut melahirkan suatu metode pembelajaran realistik dan kontekstual yang
menggabungkan antara paham rasionalitas dan empirisme. Paham rasionalitas
adalah suatu paham yang menekankan akal sebagai sumber dari segala ilmu
pengetahuan, sedangkan empirisme adalah paham yang menekankan pengalaman hidup
serta pengamatan manusia sebagai sumber ilmu pengetahuan.
Filsuf-filsuf yang
berperan dalam Landasan Epistemologi Matematika adalah Plato, Rene Des Cartes
dan Immanuel Kant. Pemikiran Plato menekankan bahwa rasionalitas adalah kunci
utama sedangkan Immanuel Kant dan Rene Des Cartes menekankan bahwa pengalaman hidup
manusia dengan interaksi alam sekitar menghasilkan ilmu pengetahuan. Meskipun
ketiga filsuf tersebut mempunyai pandangan yang berbeda terhadap matematika
tetapi kombinasi dari buah karya ketiga filsuf tersebut melahirkan suatu
pemikiran bahwa matematika terlahir atas dasar rasionalitas/ide dan pengalaman.
Dalam pembelajaran
matematika, pemikiran Plato, Rene Des Cartes, dan Immanuel Kant bermanfaat
dalam pengembangan beberapa metode pembelajaran seperti CTL (Contextual Teaching and Learning) dan
RME (Realistic Mathematics Education).
Kedua metode pembelajaran tersebut menekankan bahwa pengenalan konsep matematis
siswa tidak hanya diperoleh dari definisi, rumus, atau aksioma saja yang
bersifat konsisten tetapi juga konsep matematis tersebut bisa diadaptasi dari permasalahan
dan situasi yang terjadi di dunia nyata sehari-hari. Inti pembelajaran
realistik (RME) dan pembelajaran kontekstual (CTL) adalah konsep matematis
siswa bisa didapat dari obyek-obyek di lingkungan sekitar maupun dari
permasalahan hidup manusia sehari-hari. Begitu pula sebaliknya bahwa konsep
matematis murni juga bisa diaplikasikan dalam situasi dalam dunia nyata. Dalam
pembelajaran kontekstual dan realistik, siswa dilatih untuk mampu menyelesaikan
segala permasalahan hidup dengan mengaplikasikan konsep matematika yang
diperoleh, bahkan untuk mendapatkan konsep matematis yang baru sekalipun, siswa
dapat menggunakan konsep lama yang telah dipelajari dan dihubungkan dengan
situasi kontekstual sehingga terbentuk konsep baru.
Kemampuan pemahaman
konsep matematis merupakan tolak ukur/landasan belajar matematika. Dengan kemampuan
pemahaman konsep matematis yang kuat maka akan berpengaruh terhadap kemampuan
matematis siswa lain seperti kemampuan pemecahan masalah (Problem Solving),
kemampuan koneksi matematis, kemampuan representasi matematis, kemampuan
komunikasi matematis, dan kemampuan investigasi matematis. Jika seluruh
kemampuan tersebut sudah dikuasai oleh siswa maka pelajaran matematika terasa
menyenangkan dan menarik bagi siswa. Akibatnya hasil belajar matematika siswa
akan meningkat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar